JAKARTA –
**Borneonews, Washington** - Calon wakil presiden dari Partai Demokrat AS, Tim Walz, baru-baru ini membela rekam jejak militernya setelah menerima kritik dari JD Vance, pesaingnya dari Partai Republik. Dalam pidato pertamanya saat kampanye di sebuah konvensi yang diselenggarakan oleh Federasi Pegawai Negara Bagian, Kabupaten, dan Kota Amerika (AFSCME) di Los Angeles, Walz menyatakan, "Saya sangat bangga atas pengabdian saya kepada negara ini." Walz juga menyampaikan apresiasi kepada semua individu yang berani mengenakan seragam demi negara, termasuk lawan politiknya, dengan kata-kata, "Terima kasih atas pengabdian dan pengorbanan Anda." Pernyataan itu merupakan tanggapan atas tuduhan yang dilontarkan oleh Vance, seorang veteran Marinir dan calon wakil presiden untuk Donald Trump. Vance sebelumnya mempertanyakan pengabdian militer Walz dan menuduhnya melakukan "pencurian keberanian" dengan membuat klaim palsu terkait rekam jejak dinas militernya. Dalam sebuah acara kampanye di Michigan, Vance menegaskan, "Dia tidak pernah menghabiskan satu hari pun di medan pertempuran. Saya akan malu jika saya jadi dia dan berbohong mengenai dinas militer saya seperti yang dia lakukan." Menanggapi tuduhan ini, Walz dengan tegas membantah narasi yang dikemukakan oleh Vance dan menjelaskan bahwa keputusannya untuk tidak lagi aktif tidak ada hubungannya dengan kemungkinan penempatan. Ia juga menyiapkan argumen mengenai advokasinya untuk para veteran selama masa jabatannya di kongres. "Dengan dorongan ayah saya, seorang pria yang bertugas di ketentaraan selama Perang Korea, saya mendaftar menjadi Garda Nasional Angkatan Darat dua hari setelah ulang tahun saya yang ke-17," ucap Walz. Di samping itu, Walz menambahkan, "Saya mengabdi selama 24 tahun berikutnya dengan alasan yang sama seperti yang dilakukan saudara dan saudari saya yang berseragam. Kami mencintai negara ini. Kemudian, pada 2005, saya mematuhi panggilan tugas lagi, kali ini untuk mengabdi kepada negara saya di gedung Kongres." Pernyataan ini menunjukkan komitmen dan dedikasi Walz terhadap negara, serta memberikan konteks terhadap latar belakang militernya. Setelah Walz memberikan klarifikasinya, JD Vance berupaya merespons melalui platform sosial media X, di mana ia menyatakan bahwa Walz "tidak seharusnya berbohong atas pengabdiannya." Vance menekankan, "Anda seharusnya tidak mengatakan Anda pergi berperang padahal tidak. Anda juga seharusnya tidak mengatakan Anda tidak tahu bahwa unit Anda pergi ke Irak. Senang bisa membahas ini lebih lanjut dalam debat." Perdebatan antara kedua calon ini semakin menegaskan pentingnya mempertimbangkan rekam jejak dan pengabdian mereka kepada negara, sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kampanye pemilu yang akan datang. ANTARA