**Borneonews**, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, menekankan pentingnya penambahan jumlah kendaraan listrik sebagai langkah strategis dalam mengurangi polusi udara dan meningkatkan kualitas lingkungan, khususnya di Jakarta. Upaya ini dirasa mendesak mengingat kondisi indeks kualitas udara di Jakarta saat ini berkisar antara 170 hingga 200, yang menunjukkan pencemaran yang cukup tinggi.
Dalam pernyataannya, Luhut mengungkapkan rencana untuk mengintroduksi sebanyak 5.000 bus berbasis kendaraan listrik (electric vehicle/EV) secara bertahap dalam sistem transportasi umum. Hal ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam mengurangi emisi dan meningkatkan kualitas udara di kota yang dikenal dengan angka pencemaran tinggi tersebut.
Luhut juga menekankan bahwa penggunaan transportasi massal berbasis kendaraan listrik sangat krusial di tengah masalah polusi udara yang telah memengaruhi kesehatan masyarakat. Pemerintah bahkan harus mengalokasikan dana sebesar Rp38 triliun untuk biaya pengobatan akibat dampak kesehatan yang ditimbulkan oleh pencemaran. Dengan demikian, dia menegaskan, "Tidak ada lagi bus yang pakai solar, dan juga mobil-mobil, karena transportasi ini memiliki dampak besar terhadap polusi udara."
Selain itu, Luhut juga mengungkapkan rencana penutupan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Suralaya di Cilegon, Banten, sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk mengatasi polusi udara di DKI Jakarta. Rencana penutupan ini berisiko karena PLTU tersebut telah beroperasi lebih dari 40 tahun. Luhut mengindikasikan bahwa pihaknya akan segera mengadakan rapat untuk menindaklanjuti rencana tersebut, dengan harapan indeks kualitas udara Jakarta dapat ditekan di bawah angka 100.
Dalam konteks yang lebih luas, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah menetapkan target pengembangan 2 juta kendaraan listrik roda empat dan 13 juta kendaraan listrik roda dua hingga tahun 2030. Dari target tersebut, diharapkan akan terjadi penghematan energi sebesar 29,79 Million Barrel Oil Equivalent (MBOE) serta reduksi emisi gas buang sebanyak 7,23 juta ton CO2.
Agus Tjahjana, Staf Khusus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bidang Percepatan Pengembangan Industri Sektor ESDM, mengungkapkan bahwa target tersebut adalah bagian dari strategi untuk mempercepat program kendaraan listrik dan membangun ekosistemnya. Selain itu, ini juga merupakan langkah untuk mempercepat transisi energi menuju Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060.
Pemerintah Indonesia menunjukkan keseriusannya dalam mengembangkan rantai pasok ekosistem baterai kendaraan listrik, dengan memanfaatkan potensi nikel yang melimpah di tanah air. Dengan upaya ini, diharapkan Indonesia dapat berperan aktif dalam industri kendaraan listrik global serta mengatasi masalah polusi yang menjadi tantangan serius bagi masyarakat.
ANTARA
Kendaraan Listrik Ditingkatkan untuk Tekan Polusi Udara Jakarta
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Kebobolan pada Menit Akhir, Persela Ditahan Imbang De Red FC 2-2
Erick Thohir Berikan Surat Dukungan kepada Presiden FIFA
Gol Pablo Comitre Gagalkan Kemenangan Bali United di Markas Persita
Amri/Nita Petik Pelajaran Berharga Setelah Terhenti di French Open
Pelatih Minta Persebaya Bermain Agresif saat Hadapi Madura United
Razia Narkoba, 32 Sopir Angkutan Batubara di Barito Timur Jalani Tes Urine
Komentar (0)
Memuat komentar…







