JAKARTA –
**Borneonews**, Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menegaskan bahwa rencana penutupan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Suralaya yang berlokasi di Banten harus mempertimbangkan kehadiran sumber energi baru dan terbarukan (EBT) sebagai pengganti. Langkah ini penting untuk memastikan kelangsungan pasokan energi secara berkelanjutan dan untuk memenuhi kebutuhan energi masyarakat. Dalam wawancara yang berlangsung di acara Supply Chain & National Capacity Summit 2024 di Jakarta Convention Center (JCC) Senayan, Arifin mengakui bahwa PLTU Suralaya di Cilegon, Banten, memiliki emisi yang sangat tinggi. Keberadaan emisi yang signifikan ini menjadi salah satu alasan utama perlunya melakukan rencana pensiun dini terhadap pembangkit tersebut. Arifin menyatakan, “(PLTU Suralaya) itu memang harus kita rencanakan pensiun dini, tapi direncanakan juga energi baru yang akan masuk baru ini, apa yang gantinya.” Menteri Arifin menjelaskan bahwa ia pernah melakukan peninjauan langsung di kawasan operasi PLTU Suralaya dan menyimpulkan bahwa emisi yang dihasilkan dari pembangkit tersebut sangat merugikan. Ia menyatakan, “Saya sendiri kan pernah terbang di atas wilayah itu, dan memang berat tuh emisinya di daerah sana, Cilegon, banyak industri, kemudian pembangkitnya gede ya.” Lebih lanjut, Arifin mengemukakan bahwa jika dilihat dari potensi energi baru di Jawa, jumlahnya ternyata tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan energi yang ada. Oleh karena itu, penting adanya sambungan transmisi dari Sumatera untuk mendukung pasokan energi yang dibutuhkan ke depannya. Ia juga menekankan bahwa pembangunan infrastruktur transmisi harus dilakukan secara bertahap agar bisa berjalan dengan efektif. “Tanpa infrastruktur transmisi yang memadai, energi baru tidak akan bisa masuk ke jaringan listrik nasional,” imbuhnya. Menurutnya, infrastruktur yang baik sangatlah krusial untuk menghapus ketergantungan terhadap energi konvensional, terutama dari PLTU yang telah beroperasi dalam jangka waktu lama. “Jadi kalau nggak ada infrastruktur transmisi tentu nggak akan bisa masuk energi-energi baru ini dari mana-mana aja,” jelas Arifin. Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, juga mengungkapkan rencana penutupan PLTU Suralaya di Cilegon, Banten, sebagai upaya untuk menekan tingkat polusi udara di Jakarta. “Jadi kita pengen exercise kita ingin kaji kalau bisa kita tutup supaya mengurangi polusi di Jakarta,” ucap Luhut yang juga hadir dalam kesempatan tersebut. Luhut menegaskan bahwa penutupan PLTU tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk mengatasi permasalahan polusi udara, khususnya di DKI Jakarta. Dengan catatan bahwa PLTU Suralaya telah beroperasi selama lebih dari 40 tahun, dirinya menyatakan, “Itu kami (akan) rapatin nanti yang (PLTU) Suralaya itu, kan sudah banyak polusinya.” Sejalan dengan itu, pihaknya berencana untuk segera melakukan rapat guna menindaklanjuti langkah rencana penutupan PLTU yang beroperasi selama lebih dari empat dekade tersebut. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan masalah polusi udara dapat diminimalisir sekaligus mendorong peralihan ke energi yang lebih ramah lingkungan. ANTARA