JAKARTA –
**Borneonews, Jakarta** - Kementerian Kesehatan telah menyelenggarakan pelatihan dasar dukungan hidup bagi masyarakat untuk meningkatkan respons dalam situasi darurat medis. Indonesia dianggap sebagai salah satu negara yang rentan terhadap bencana, sehingga pelatihan ini menjadi sangat penting. Menurut Kepala Pusat Krisis kementerian tersebut, Sumarjaya, terdapat sepuluh program prioritas dari Kementerian Kesehatan dalam transformasi kesehatan, di mana salah satunya adalah memberdayakan masyarakat. Pemberdayaan ini bertujuan untuk mempersiapkan masyarakat dalam membantu dan menangani risiko bencana, baik yang bersifat alamiah, non-alamiah, maupun sosial. Setelah pandemi COVID-19, indeks risiko bencana mengalami lonjakan yang signifikan, sehingga pelatihan seperti ini sangat diperlukan. Sumarjaya menjelaskan bahwa pelatihan ini mencakup keterampilan penting, antara lain membantu seseorang yang mengalami henti jantung mendadak, tersedak, atau pingsan. Dalam pelatihan tersebut, para profesional mengajarkan peserta cara melakukan resusitasi jantung paru (CPR) dan penggunaan Automated External Defibrillators (AED), serta cara membersihkan saluran pernapasan yang terblokir. Sumarjaya menekankan pentingnya pengetahuan dasar dukungan hidup untuk memastikan kesehatan semua orang, karena kesehatan bukan hanya tanggung jawab tenaga medis. Ada dua fase dalam situasi darurat medis, yaitu keadaan darurat pra-rumah sakit dan keadaan darurat di rumah sakit. Ia menjelaskan bahwa perawatan yang diberikan di rumah sakit bersifat kuratif. Sementara itu, pertolongan pra-rumah sakit bertujuan untuk memastikan pasien tetap hidup pada saat darurat terjadi. Seringkali, ketika menghadapi situasi medis darurat, orang-orang mengalami kepanikan dan langsung berpikir untuk membawa pasien ke fasilitas kesehatan, tanpa mempertimbangkan cara-cara untuk menyelamatkan pasien terlebih dahulu agar mereka tetap aman sebelum sampai di rumah sakit. Sumarjaya mengingatkan tragedi Kanjuruhan yang terjadi pada tahun 2022, ketika tidak ada satu pun yang memberikan dukungan hidup dasar. Ia membandingkannya dengan tragedi Itaewon yang terjadi di Seoul, Korea Selatan, yang terjadi tidak lama setelahnya, di mana banyak orang melakukan CPR pada korban. Contoh lain yang disampaikannya adalah kematian atlet asal Tiongkok, Zhang Zijie, pada bulan Juni 2024. Ia mengungkapkan kesedihan atas peristiwa tersebut dan menekankan bahwa itu seharusnya menjadi pengingat akan pentingnya pengetahuan tentang dukungan hidup dasar. Sumarjaya percaya bahwa melalui inisiatif yang sederhana ini, masyarakat dapat memberikan pertolongan yang dapat menyelamatkan nyawa. Ini menunjukkan betapa krusialnya pendidikan dan pelatihan dasar terkait dukungan hidup bagi masyarakat luas. ANTARA