SEMARANG –
**Borneonews, Semarang** - Universitas Diponegoro (Undip) di Semarang menolak tuduhan bahwa kematian AR, mahasiswi Program Pendidikan Dokter Spesialis Fakultas Kedokteran, disebabkan oleh bunuh diri yang dipicu oleh perundungan. Hal ini disampaikan oleh Manajer Layanan Terpadu dan Humas Undip, Utami Setyowati, dalam tanggapan tertulis yang dikeluarkan oleh pihak rektorat. Utami menjelaskan bahwa hasil investigasi internal yang dilakukan pihak universitas menunjukkan bahwa informasi tersebut tidak akurat. Menurutnya, almarhumah merupakan sosok mahasiswi yang sangat berdedikasi terhadap studi dan pekerjaannya. Namun, ia juga mengungkapkan bahwa AR menghadapi permasalahan kesehatan yang memengaruhi proses pembelajarannya. Utami menyatakan, "Kami tidak dapat menjelaskan secara rinci mengenai masalah kesehatan yang dialami oleh korban." Berdasarkan informasi yang ada, mahasiswi tersebut sempat mempertimbangkan untuk mengundurkan diri dari program studi, namun niat tersebut dibatalkan karena ia terikat secara administratif dengan syarat-syarat penerima beasiswa. "Namun almarhumah mengurungkan niat tersebut," tambahnya. Undip memberikan apresiasi terhadap fakta-fakta lain yang mungkin relevan di luar hasil investigasi yang sudah dilakukan. Di sisi lain, universitas mengungkapkan komitmennya untuk bekerja sama dengan berbagai pihak guna mendukung tujuan pendidikan, khususnya dalam menerapkan kebijakan "zero bullying" di Fakultas Kedokteran. Sebelumnya, insiden ini menyoroti permasalahan serius yang dihadapi seorang mahasiswi Program Pendidikan Dokter Spesialis, di mana AR ditemukan tidak bernyawa di tempat indekosnya pada tanggal 12 Agustus. Kematian yang terjadi di Jalan Lempongsari, Kota Semarang, Jawa Tengah, menimbulkan spekulasi bahwa kejadian tersebut mungkin berkaitan dengan tindakan perundungan yang dialaminya selama menempuh pendidikan. ANTARA