**Borneonews**, Washington - Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengambil langkah penting dengan mengirim dua pejabat tinggi untuk urusan Timur Tengah ke kawasan tersebut. Langkah ini diambil di tengah meningkatnya spekulasi bahwa Iran mungkin akan segera membalas kematian mantan pemimpin politik tertinggi Hamas yang terjadi bulan lalu di Teheran.
Juru bicara Gedung Putih, Karine Jean-Pierre, mengungkapkan bahwa pemerintah AS telah melakukan berbagai upaya baik secara diplomatik maupun militer untuk mencegah peningkatan ketegangan yang lebih lanjut dari Iran dan kelompok proksinya terhadap Israel. Ia juga menyatakan pentingnya mendukung deeskalasi perbatasan di kawasan tersebut.
Penasihat Keamanan Nasional Jake Sullivan telah mengarahkan koordinator urusan Timur Tengah, Brett McGurk, serta utusan khusus, Amos Hochstein, untuk melakukan perjalanan ke kawasan tersebut. McGurk direncanakan akan mengunjungi Kairo sebelum melanjutkan perjalanan ke Doha, Qatar, yang dijadwalkan menjadi tempat perundingan gencatan senjata pada hari Kamis. Sementara itu, Hochstein akan menuju Beirut, ibu kota Lebanon.
Karine Jean-Pierre menekankan bahwa cara terbaik untuk mendorong penyelesaian konflik adalah melalui jalur diplomatik. Ia menambahkan bahwa dalam beberapa pekan terakhir, terdapat upaya yang dilakukan oleh presiden untuk memfasilitasi proses ini. Tim yang dikirim ke kawasan diharapkan dapat meneruskan usaha diplomatik yang telah diupayakan sebelumnya.
Lebih lanjut, Jean-Pierre menyatakan bahwa pihaknya akan terus mengupayakan kesepakatan terkait penanganan sandera dan perundingan gencatan senjata. Ia meyakini bahwa langkah ini adalah cara terbaik untuk mengurangi ketegangan yang sedang melanda Timur Tengah.
Tuduhan antara Hamas dan Iran menyebutkan bahwa Israel berperan dalam pembunuhan Ismail Haniyeh pada 31 Juli di wilayah Iran. Namun, Israel sendiri tidak mengkonfirmasi atau membantah keterlibatannya dalam insiden tersebut. Selain itu, kelompok Lebanon, Hizbullah, diperkirakan juga akan membalas setelah kehilangan komandan seniornya, Fuad Shukr, yang terbunuh dalam serangan udara Israel di pinggiran selatan Beirut pada 30 Juli.
Kematian Shukr terjadi beberapa jam sebelum Haniyeh, yang semakin memicu ketegangan di kawasan dan meningkatkan kekhawatiran akan kemungkinan terjadinya perang yang lebih luas. Insiden-insiden ini berlangsung di tengah serangan Israel yang terus berlanjut di Jalur Gaza, yang telah mengakibatkan hampir 40 ribu warga Palestina tewas dalam pembantaian yang telah berlangsung selama 10 bulan.
Dalam konteks yang lebih luas, serangan lintas batas yang dilakukan oleh Hamas pada 7 Oktober 2023 mencatatkan 1.139 orang tewas. Statistik ini menunjukkan dampak besar dari konflik yang terus berlangsung di wilayah tersebut, menciptakan situasi yang semakin kompleks dan memerlukan perhatian serta upaya penyelesaian yang lebih intensif.
ANTARA
Peningkatan Ketegangan di Timur Tengah, Biden Kirim Pejabat Tinggi
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Mobil Oksigen Gratis Palangka Raya Layani 289 Pemanfaatan hingga 24 Oktober
Faktor Kelembapan Tinggi Picu Hujan di Palangka Raya Senin Dini Hari
Hotspot Kalteng Turun Selama 4 Hari Terakhir, Tapi Karhutla Harian Bertahan di Kisaran 58 Kejadian
PSI Barito Timur Turun ke Jalan, Bantu Warga Hadapi Kabut Asap Karhutla
Pemko Tidak Kewalahan Tangani Karhutla, Fokus Hadapi Kondisi di Lapangan
Penundaan TKA Kalteng jadi Kesempatan Perdalam Materi
Komentar (0)
Memuat komentar…







