**Borneonews**, Jakarta - Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengungkapkan kebutuhan investasi sebesar 25,2 miliar dolar AS untuk pengembangan hidrogen yang berasal dari energi terbarukan (*green hydrogen*) dalam periode 2031 hingga 2060. Investasi ini dianggap krusial untuk mencapai target pengurangan emisi karbon sebesar 43 persen pada tahun 2030.
Direktur Deregulasi Penanaman Modal BKPM, Dendy Apriandi, menyatakan bahwa capaiannya tidak dapat terlepas dari peran serta sektor swasta dalam melakukan investasi. "Kita memiliki target 2030 itu 43 persen pengurangan karbon, sehingga target ini juga memerlukan investasi dari sektor swasta minimal 25,2 miliar dolar AS, dan ini yang kita kejar," ujar Dendy dalam sebuah kesempatan di Jakarta.
Salah satu pemain utama dalam pengembangan hidrogen hijau di Indonesia adalah Pertamina, yang telah menginvestasikan 11 miliar dolar AS. Investasi ini merupakan bagian dari upaya mereka untuk mempercepat transisi menuju energi hijau. Selain itu, kolaborasi internasional juga tengah berlangsung, seperti yang ditunjukkan oleh The Global Green Growth Institute (GGGI) yang bekerja sama dengan Samsung dan Hyundai. Proyek tersebut bernilai 1,2 miliar dolar AS dan dilaksanakan di Blok Sarulla, Sumatera Utara, dengan tujuan memproduksi hidrogen hijau.
Dendy menegaskan bahwa potensi bisnis dari pengembangan hidrogen hijau jauh lebih besar dibandingkan hidrogen konvensional yang selama ini dihasilkan dari gas alam (*grey hydrogen*). Meskipun begitu, ia juga mencatat bahwa saat ini biaya produksi untuk hidrogen hijau masih cukup tinggi. "Harga produksi pada tahun 2023 sebesar 6,4 dolar AS per kilogram tersebut, diperkirakan bisa terus dipangkas," ujarnya. Ia optimis bahwa ada kemungkinan biaya produksi ini bisa diturunkan di bawah 2 dolar AS.
Sebelumnya, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengemukakan bahwa pengembangan hidrogen memiliki potensi untuk mencegah krisis energi di sektor industri. Ini juga sejalan dengan upaya untuk mencapai penurunan emisi karbon dioksida (CO2) sebesar 912 juta ton pada tahun 2030, sesuai dengan *Enhanced-Nationally Determined Contribution* (E-NDC).
Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil (IKFT) Kemenperin, Reni Yanita, menambahkan bahwa hidrogen adalah alternatif bahan bakar yang ramah lingkungan. Ia menjelaskan bahwa hidrogen berfungsi sebagai media penyimpan energi yang ideal karena unsur tersebut menjadi penghubung dalam rantai energi yang berkelanjutan dan bebas emisi dari awal hingga akhir. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan Indonesia dapat berkontribusi lebih terhadap keberlanjutan lingkungan melalui inovasi dalam energi.
ANTARA
Investasi 25,2 Miliar Dolar AS untuk Pengembangan Hidrogen Hijau
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Timnas Indonesia U15 Menang Telak atas Fiji, Hariri dan Dicky Dua Gol
Leo/Daniel Kandas di Semifinal French Open
Polres Barito Timur Kerahkan 38 Personel Padamkan Karhutla di Murutuwu
Veda Ega Sebut Tugasnya Belum Usai Setelah Berada di Pole Position
Sembilan Hari Risnayati Hilang, Pencarian Terkendala Kabut Asap Karhutla
Indonesia Lampaui Target Emas Asian Para Games 2026
Komentar (0)
Memuat komentar…







