MANADO –
**Borneonews**, Manado - Kementerian Agama (Kemenag) terus berusaha untuk meningkatkan kompetensi Penyuluh Agama Islam di Kabupaten Minahasa Tenggara (Mitra), Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Upaya ini merupakan bagian dari komitmen Kemenag untuk memastikan bahwa penyuluh agama dapat menjalankan tugas mereka dengan baik dan profesional. Kepala Seksi Pendidikan dan Bimas Islam Kemenag Mitra, Deyske R Sangia, menyampaikan bahwa pembinaan yang diberikan kepada penyuluh agama, baik yang berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) maupun non PNS, sangat penting. Melalui pembinaan ini, diharapkan para penyuluh dapat menjadi sosok yang inspiratif serta mampu memberikan solusi terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat. Dengan bekal ilmu pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dari kegiatan pembinaan ini, penyuluh Agama Islam di Kabupaten Minahasa Tenggara diharapkan dapat menjalankan tugas dengan lebih efektif. Di sisi lain, mereka juga diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam membangun masyarakat yang religius, moderat, dan toleran. Dalam kesempatan yang sama, Tim Penyuluh Agama Islam Kanwil Kemenag Sulut, Hamka Dondoh, menekankan pentingnya peran penyuluh sebagai agen perubahan. Mengacu pada ayat Al-Qur'an surat Ar-Ra'd ayat 11, Hamka menjelaskan bahwa perubahan harus dimulai dari diri sendiri. Penyuluh, lanjutnya, memiliki peran yang sangat penting dalam membimbing masyarakat untuk melakukan introspeksi dan perubahan menuju kehidupan yang lebih baik. "Penyuluh agama bukan hanya sekedar pemberi ceramah, tetapi lebih dari itu, mereka adalah contoh bagi masyarakat dalam menjalankan kehidupan beragama dan beribadah kepada Allah SWT," ujar Hamka. Hamka juga menekankan bahwa penyuluh harus mampu menanamkan kesadaran akan pentingnya tanggung jawab pribadi dalam mewujudkan perubahan dalam kehidupan sehari-hari. Pentingnya nilai-nilai integritas, etos kerja, dan semangat gotong royong bagi seorang penyuluh juga menjadi sorotan utama dalam pembinaan ini. Integritas, menurut Hamka, tercermin dari komitmen penyuluh untuk menjalankan tugas mereka sesuai dengan nilai-nilai Islam. Etos kerja yang kuat akan mendorong para penyuluh untuk selalu memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Sementara itu, semangat gotong royong akan memfasilitasi kerjasama antara penyuluh dengan berbagai pihak, guna mencapai tujuan bersama yang lebih baik. Selain itu, kegiatan pembinaan ini juga menyoroti moderasi beragama. Para peserta diajak untuk memahami pentingnya toleransi, menghargai perbedaan, dan mencegah ekstremisme. Tujuannya adalah untuk menciptakan masyarakat yang harmonis dan rukun, di mana setiap individu dapat hidup berdampingan dengan saling menghargai. ANTARA