PEKANBARU –
**Borneonews**, Pekanbaru - Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) berharap Universitas Riau (Unri) dapat menyiapkan perencanaan yang tepat dalam mengelola 1.700 hektare (ha) lahan kebun kelapa masyarakat yang terdampak oleh banjir laut di Kuala Selat, Kecamatan Kateman, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau. Deputi IV BRGM, Gatot Soebiantoro, menyampaikan harapan tersebut dengan menegaskan pentingnya keterlibatan pakar dari Unri dalam merumuskan strategi pengelolaan lahan yang melibatkan aspek biofisik dan sosial. Hal ini dimaksudkan agar pengelolaan lahan terdampak banjir laut dapat dilakukan secara efektif. Kebun kelapa, sebagai sumber kehidupan masyarakat setempat, sangat terpengaruh oleh kejadian ini. Gatot menjelaskan bahwa dampak sosial yang timbul dari situasi ini adalah hal yang signifikan. Selain itu, BRGM berkomitmen untuk turut serta dalam mitigasi bencana pesisir berskala besar sebagai bagian dari tugas restorasi gambut dan mangrove. Ketua Pusat Unggulan Iptek (PUI) Gambut dan Kebencanaan, Sigit Sutikno, menyoroti masalah kebobolan tanggul daratan yang dibuat oleh masyarakat yang memungkinkan air laut masuk ke darat dan merusak kebun kelapa. Ia menyatakan bahwa kondisi ini telah memperparah kerusakan lahan kebun kelapa yang ada. Dampak dari banjir ini secara fundamental mengubah karakteristik lahan kebun kelapa, sehingga potensi lahan untuk budi daya mungkin tidak akan sesuai lagi. Namun, disisi lain, hal ini memberikan harapan untuk pertumbuhan kembali mangrove, baik secara alamiah maupun melalui rehabilitasi. Dalam upaya rehabilitasi mangrove, diperlukan rekayasa untuk mempercepat proses tersebut. Salah satu strateginya adalah dengan menciptakan struktur pemecah ombak yang dapat mengakumulasi sedimen. Peneliti PUI Gambut dan Kebencanaan, Ahmad Muhammad, juga menambahkan bahwa kemungkinan lahan bekas kebun kelapa dapat menjadi hamparan padang piai (*Acrostichum aureum*), sejenis tumbuhan paku yang invasif. Jika tumbuhan ini lebih mendominasi lahan tersebut, maka kemungkinan regenerasi mangrove secara alamiah akan sangat minim. Proses rehabilitasi pun akan memerlukan banyak usaha untuk membersihkan jenis paku-pakuan ini terlebih dahulu. Azwar Maas, guru besar ilmu tanah dari Universitas Gadjah Mada (UGM), memperingatkan bahwa bahaya paling besar adalah zat besi teroksidasi yang dapat berubah menjadi pirit, yang berpotensi menjadi racun bagi semua tumbuhan, termasuk mangrove. Dengan demikian, pengelolaan dan rehabilitasi lahan di kawasan ini memerlukan perhatian dan strategi yang baik agar masyarakat dapat kembali merasakan manfaat dari lahan kelapa mereka serta menjaga keberlanjutan mangrove. ANTARA