JAKARTA –
**Borneonews**, Jakarta – Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar, yang akrab disapa Cak Imin, mengungkapkan bahwa Wakil Presiden Ma'ruf Amin kini tidak lagi bersedia untuk bertindak sebagai juru damai dalam konflik antara PKB dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Menurut Cak Imin, perubahan sikap Wapres Ma'ruf ini menunjukkan ketegasan yang lebih dalam menyikapi permasalahan yang ada. Dalam ungkapannya, Cak Imin menjelaskan bahwa situasi ini sudah berbeda dan bukan semata-mata tentang dua organisasi yang sama. “NU urusannya apa, PKB urusannya apa,” tegasnya di Rumah Dinas Wapres di Jakarta pada hari Kamis. Lebih lanjut, Cak Imin memastikan bahwa tidak ada lagi konflik yang krusial antara kedua lembaga tersebut. Ia menekankan bahwa kritik, baik dari PBNU maupun pihak lain, seharusnya dipandang sebagai bentuk masukan yang konstruktif untuk perbaikan. Saat ditanya para jurnalis mengenai kepastian tidak adanya konflik, Cak Imin menegaskan, “Karena enggak ada konflik apa-apa. Ini dua lembaga yang berbeda.” Dalam konteks organisasi, Cak Imin menyampaikan kepada pengurus PKB bahwa dalam pertemuan dengan Wakil Presiden, Ma'ruf telah mengingatkan agar PKB tetap jalan terus dan tidak terpengaruh oleh situasi yang ada. Wapres Ma'ruf juga meminta agar PKB fokus pada persiapan Muktamar PKB yang akan datang dan merasa tidak perlu khawatir menghadapi tantangan yang muncul. “Beliau ingin di-update perkembangan dan itu nanti akan kami laporkan setiap perkembangan, aspirasi para peserta muktamar yang 3.000 itu,” jelas Cak Imin. Dalam dua minggu sebelumnya, Wapres Ma'ruf pernah menyatakan kesiapannya untuk menjadi penengah dalam konflik tersebut. Ia mengatakan, “Kalau keinginan mereka itu untuk saya diminta sebagai orang yang mengislahkan, mendamaikan dengan tulus dan ikhlas, saya sangat bersedia” saat memberikan keterangan pers usai meninjau MuseumKu Gerabah Timbul Raharjo Kasongan di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Cak Imin optimis bahwa PKB dapat berjalan dengan baik meskipun dalam situasi yang menantang, menjadikan Muktamar sebagai momentum untuk menjaga kestabilan dan persatuan organisasi. ANTARA