JAKARTA –
**Borneonews**, Jakarta - Ketua Umum Partai Gerindra sekaligus Presiden Terpilih Republik Indonesia untuk periode 2024–2029, Prabowo Subianto, mengungkapkan ketidakpahaman tentang anggapan bahwa Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) "ditinggal" dari Koalisi Indonesia Maju (KIM). Dalam pernyataannya, Prabowo mengatakan, “Saya tidak mengerti, ditinggal atau siapa yang meninggalkan siapa, saya tidak mengerti,” ketika menjawab pertanyaan wartawan usai menerima kunjungan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di kediamannya yang berlokasi di Jalan Kertanegara, Jakarta, pada malam hari. Pada kesempatan tersebut, Prabowo menerima kunjungan dari tiga elite partai yang berada di luar KIM. Ketiga elite partai tersebut adalah Ketua Umum Partai Nasdem, Surya Paloh; Pelaksana Tugas Ketua Umum PPP, Muhamad Mardiono; dan Ketua Umum Partai Perindo, Angela Tanoesoedibjo. Kunjungan ini menunjukkan dinamika dalam hubungan antar partai menjelang pemilihan umum yang akan datang. Sebelumnya, Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, sempat menyinggung wacana mengenai pembentukan KIM Plus dalam kontestasi Pilkada 2024. Megawati mengekspresikan keprihatinannya terhadap upaya yang dianggapnya berpotensi meninggalkan partainya dalam pencalonan kepala daerah mendatang. Ia mengungkapkan, "Saya suka ngomong pada diri saya sendiri, ‘Kasihan, deh, PDI Perjuangan, dikungkung, ditelikung, tinggal sendirian,’ gitu. Wah, yang lain apa namanya? KIM Plus? KIM Plus itu plusnya apa? (PKS) Oh gitu?” ungkap Megawati dalam interaksinya dengan kader-kader partai di Kantor DPP PDIP, Jakarta. Megawati juga menilai upaya tersebut sebagai sesuatu yang lucu. Ia menekankan bahwa setiap warga negara memiliki hak yang sama di mata hukum sebagai dasar dari pelaksanaan pemilihan umum secara langsung. “Kan aku tadi bilang, setiap warga negara mempunyai hak yang sama di mata hukum. Jadi, kenapa ada pemilu langsung, supaya rakyat itu menjadi hakim tertinggi. Dialah dengan hati nuraninya, dengan pikirannya, akan memilih pemimpinnya, diizinkan, dan orang harusnya menerima hal itu,” tegasnya. Pernyataan dari kedua tokoh ini mencerminkan dinamika politik yang semakin kompleks menjelang Pilkada 2024, di mana setiap partai berupaya untuk mengukuhkan posisinya dalam koalisi dan pencalonan yang akan datang. ANTARA