JAKARTA –
**Borneonews**, Jakarta - Organisasi keagamaan Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah saling berbagi kisah dalam usaha mereka mewujudkan perdamaian antarumat beragama. Diskusi mengenai topik ini berlangsung dalam acara *Islamic Book Fair 2024* yang diadakan di Jakarta. Kegiatan yang diinisiasi oleh Majelis Hukama Muslimin (MHM) ini menghadirkan narasumber yang kredibel, yaitu Abdul Mu'ti (Sekretaris Umum Muhammadiyah), Ulil Abshar Abdalla (Ketua PBNU), dan Quraish Shihab (Anggota dan Pendiri MHM). Abdul Mu'ti membuka diskusi dengan menyampaikan bahwa Muhammadiyah terlibat aktif dalam proses perdamaian di Afrika Tengah, melalui kerja sama dengan lembaga Katolik di Italia. Ia menjelaskan berbagai pengalaman dan kontribusi Muhammadiyah dalam mendukung perdamaian di berbagai wilayah, termasuk di Thailand Selatan yang dihuni oleh masyarakat Pattani dan di Filipina yang merupakan daerah Bangsa Moro. Mu'ti menekankan pentingnya menciptakan kedamaian di kedua kawasan tersebut, agar masyarakatnya terbebas dari ketakutan. Ia menegaskan komitmen Muhammadiyah dalam memberikan jaminan bahwa identitas masyarakat tidak akan hilang, serta menjamin kebebasan mereka dalam menjalankan ibadah dan hak kedaulatan atas identitas mereka. Untuk itu, Muhammadiyah dan mitra lembaga dunia secara rutin menyelenggarakan forum perdamaian dunia. Forum ini diarahkan untuk menyuarakan semangat dan solusi yang mendorong terciptanya ruang dialog yang lebih tulus untuk mencapai perdamaian. Dalam konteks ajudikasi bagi Palestina, Mu'ti menginformasikan bahwa Muhammadiyah telah mendirikan dua sekolah bagi pengungsi Palestina. Sekolah tersebut dinamakan Sekolah Muhammadiyah yang diperuntukkan bagi seluruh murid yang berasal dari warga Palestina. Selain itu, Muhammadiyah juga telah mendirikan sekolah dan menyediakan layanan kesehatan untuk pengungsi Rohingya. Di Indonesia, Mu'ti menyatakan bahwa upaya Muhammadiyah dalam membangun perdamaian berfokus pada penciptaan generasi yang mencintai kedamaian. Ia menambahkan bahwa Muhammadiyah juga mengembangkan amal usaha yang berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat, serta menyediakan layanan pendidikan, kesehatan, dan sosial lainnya. Di sisi lain, Ketua PBNU, Ulil Abshar Abdalla, menyoroti bahwa salah satu isu penting dalam perdamaian adalah perdamaian di dalam negeri. Ulil menekankan bahwa menjaga perdamaian di Indonesia dan dalam tubuh umat Islam merupakan tantangan besar yang harus ditangani dengan baik. Ulil juga berbagi pengalamannya saat mengunjungi Pakistan. Ia mencermati bahwa kondisi politik di negara-negara Muslim di kawasan anak benua India, seperti Pakistan dan Bangladesh, tidak menggembirakan, terutama karena ketidakstabilan politik serta tantangan sosial yang dihadapi. "Kita bersyukur, Indonesia sekarang menikmati kestabilan, serta hubungan sosial yang cukup damai. Dalam pandangan NU, jelas ada kaitan dan kontribusi umat Islam," tambahnya. Ulil mengakui bahwa ormas keagamaan di Indonesia, termasuk NU dan Muhammadiyah, memiliki kemampuan dalam mengelola konflik. Ia memandang ini sebagai anugerah yang luar biasa. Ia juga berpendapat bahwa konsolidasi politik yang stabil di Indonesia, meskipun dihadapkan dengan berbagai masalah, tidak terlepas dari kontribusi umat Islam. "Dan unsur terbesar umat Islam di Indonesia adalah NU dan Muhammadiyah," ungkapnya. Pendiri MHM, Quraish Shihab, menyetujui apa yang disampaikan oleh Mu'ti dan Ulil. Ia menilai bahwa peran yang dijalankan oleh keduanya merupakan bagian dari alasan mengapa NU dan Muhammadiyah menerima *Zayed Award for Humanity* pada 4 Februari 2024. Quraish juga berbagi pengalaman selama terlibat dalam MHM. Ia menjelaskan bahwa Indonesia sering dijadikan contoh dalam diskusi mengenai kedamaian. "Dalam banyak rapat anggota yang saya ikuti, Indonesia sering disebut. Mereka tidak jarang berkata, mari kita ke Indonesia untuk belajar," tambahnya. ANTARA