JAKARTA –
**Borneonews**, Jakarta - Kepala Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) di Kementerian Dalam Negeri, Yusharto Huntoyungo, telah mengajak pemerintah Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk mendiversifikasi dan memperluas inovasi di berbagai sektor. Langkah ini dianggap penting agar pengembangan inovasi tidak hanya terfokus pada sektor-sektor tertentu, khususnya pendidikan dan kesehatan, yang selama ini menjadi dominasi di NTT. Huntoyungo menekankan bahwa inovasi saat ini masih didominasi oleh sektor pendidikan dan kesehatan, sementara sektor-sektor lain belum menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Ia menyatakan, "Inovasi masih didominasi oleh sektor pendidikan dan kesehatan, sementara sektor lain masih rendah." Pernyataan ini diberikan dalam suatu rapat yang berlangsung di Jakarta. Menurut Huntoyungo, keberagaman inovasi di berbagai sektor dapat membantu pemerintah NTT meningkatkan daya saing daerah dan kesejahteraan warganya. Ia berpendapat bahwa diversifikasi ini dapat membuka peluang baru bagi pemerintah provinsi dalam mengembangkan potensi yang ada, sekaligus memperkuat ekonomi lokal. Kepala BSKDN tersebut juga mengimbau para pejabat di NTT untuk saling berkolaborasi demi pengembangan inovasi yang lebih baik. Ia menekankan bahwa kerjasama antar pejabat daerah merupakan kunci dalam mempercepat proses inovasi di NTT. Dalam upaya itu, mengadakan diskusi kelompok terfokus (FGD) bisa menjadi salah satu langkah yang efektif untuk meningkatkan kreativitas pejabat daerah dalam menyelesaikan masalah terkait pelaksanaan pemerintahan. Berdasarkan laporan inovasi daerah tahun 2023, NTT menunjukkan perbaikan baik dari segi jumlah inovasi maupun peringkatnya dalam Indeks Inovasi Daerah. Total inovasi yang dilaporkan mencapai 313, yang terdiri dari 263 inovasi implementasi, 22 inovasi uji coba, dan 28 inovasi inisiatif. Dengan jumlah tersebut, skor inovasi NTT mencapai 62,53, yang terklasifikasi sebagai "sangat inovatif." ANTARA