PALANGKARAYA –
**Borneonews, Palangka Raya** Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kalimantan Tengah (Kalteng) memperkirakan bahwa inflasi di provinsi tersebut pada tahun 2024 akan berada dalam kondisi terkendali. Proyeksi inflasi diperkirakan akan berada di rentang 2,5 persen plus minus 1 persen. Kepala BI Perwakilan Kalteng, Yuliansah Andrias, menyampaikan perkiraan ini dalam acara diseminasi perekonomian yang mengambil tema *Central Borneo Economic's Revival: Mendorong hilirisasi berbasis sumber daya alam melalui kebijakan pembiayaan* di Palangka Raya. Ia mengungkapkan bahwa perkiraan tersebut didasarkan pada optimalisasi peran Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) melalui berbagai kegiatan pengendalian inflasi yang telah dilaksanakan. Yuliansah menjelaskan bahwa kegiatan yang dilakukan oleh TPID mencakup rapat koordinasi, inspeksi mendadak (sidak) di sejumlah pusat perbelanjaan modern dan tradisional, serta rutin mengadakan pasar murah. Selain itu, terdapat pula kebijakan impor bahan pangan dan perluasan kerja sama antar daerah yang berkontribusi dalam pengendalian inflasi. Ia menambahkan bahwa sinergi program Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) semakin diperkuat, terutama dalam pengembangan komoditas unggulan seperti IR42 dan program digital farming. Meskipun demikian, Yuliansah mengakui adanya risiko peningkatan harga pada komoditas energi. Ketidakpastian global yang diakibatkan oleh berlanjutnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta konflik Rusia-Ukraina perlu menjadi perhatian lebih lanjut untuk menjaga kestabilan inflasi. Ia juga menyoroti bahwa kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), khususnya jenis non-subsidi, yang terjadi pada 2 Agustus 2024, mencakup produk seperti Pertamax Turbo, Pertamax Green 95, Dexlite, dan Pertamina Dex, dapat memberikan dampak lebih lanjut. Transmisi dari kenaikan harga BBM ini diperkirakan akan berpengaruh pada kenaikan biaya angkut komoditas terkait. "Kondisi tersebut tentunya menjadi perhatian kami bersama seluruh pihak yang tergabung di dalam Tim Penanggulangan Inflasi Daerah (TPID) Kalteng," ucap Yuliansah menegaskan. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat inflasi year-on-year (y-on-y) di Provinsi Kalimantan Tengah hingga Juli 2024 tercatat sebesar 1,28 persen. Sedangkan untuk inflasi month-to-month (m-to-m) di provinsi tersebut, pada Juli 2024 terjadi deflasi sebesar 0,68 persen, dengan tingkat inflasi year-to-date (y-to-d) sebesar 0,37 persen pada bulan yang sama. ANTARA