**Borneonews**, Hamilton, Kanada - Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) mengecam serangan udara yang dilakukan oleh Israel, yang baru-baru ini mengakibatkan tewasnya bayi kembar berusia empat hari bersama dengan ibu mereka. Direktur Eksekutif UNICEF, Catherine Russell, menyebut insiden tersebut sebagai situasi yang sangat menyedihkan. Ia mengekspresikan keprihatinan yang mendalam melalui sebuah unggahan di platform X, menanyakan, "Berapa banyak lagi anak-anak yang akan terbunuh di Gaza atau mengalami penderitaan yang tak terlukiskan sebelum mimpi buruk ini berakhir?"
Kejadian tragis ini terjadi pada Selasa, 13 Agustus 2023, saat ayah bayi kembar tersebut, Mohammad Abu al-Qumsan, pergi untuk mengambil akta kelahiran mereka. Russell menambahkan, "Menyedihkan mendengar bahwa bayi kembar yang baru lahir dan ibu mereka termasuk di antara korban terakhir." Dalam pernyataannya, ia mendesak agar gencatan senjata dan pembebasan sandera dilakukan tanpa syarat.
Serangan udara Israel merupakan bagian dari agresi yang sedang berlangsung di Jalur Gaza, yang telah mengklaim lebih dari 40 ribu nyawa sejak dimulainya serangan pada 7 Oktober 2023. Selain itu, Israel juga menerima kecaman internasional karena mengabaikan resolusi Dewan Keamanan PBB yang menyerukan gencatan senjata segera. Agresi brutal tersebut bertambah intens sejak serangan oleh kelompok perlawanan Palestina, Hamas.
Menurut otoritas kesehatan setempat, serangan Israel sejak 7 Oktober 2023 telah menyebabkan lebih dari 40 ribu orang tewas, di mana sebagian besar adalah perempuan dan anak-anak. Lebih dari 92.400 orang lainnya juga mengalami luka-luka dalam serangkaian serangan tersebut. Selain tragedi kemanusiaan oleh serangan yang tidak henti-hentinya, hampir semua wilayah di Gaza mengalami kehancuran akibat blokade yang menyebabkan kelangkaan makanan, air bersih, dan obat-obatan.
Lebih dari sepuluh bulan berlalu sejak dimulainya serangan, sebagian besar wilayah Gaza telah hancur. Israel kini dihadapkan pada tuduhan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ), yang telah memerintahkan negara tersebut untuk segera menghentikan operasi militer di selatan kota Rafah. Wilayah ini telah menjadi tempat perlindungan bagi lebih dari satu juta warga Palestina yang melarikan diri dari perang sebelum diserang pada 6 Mei.
Keadaan ini menunjukkan betapa seriusnya krisis kemanusiaan yang tengah berlangsung di Gaza, serta perlunya perhatian dan tindakan internasional yang mendesak untuk menghentikan kekerasan yang terus berlanjut.
ANTARA
UNICEF Kecam Serangan Udara Israel, Tewaskan Bayi Kembar dan Ibu
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Amri/Nita Petik Pelajaran Berharga Setelah Terhenti di French Open
Pelatih Minta Persebaya Bermain Agresif saat Hadapi Madura United
Razia Narkoba, 32 Sopir Angkutan Batubara di Barito Timur Jalani Tes Urine
Ganda Putri Isyana/Rinjani Sabet Gelar Juara Indonesia Masters
Arema FC Libas Dewa United 4 Gol Tanpa Balas
Veda Ega Alihkan Fokus ke GP Malaysia Usai GP Australia Batal
Komentar (0)
Memuat komentar…







