AMBON –
**Borneonews**, Ternate - Perwakilan Bank Indonesia (BI) Maluku Utara (Malut) melaporkan bahwa hingga Juni 2024, jumlah pengguna QRIS di Malut mencapai 85.280 orang, dengan total volume transaksi sebanyak 1.087.552 kali. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku Utara, Dwi Putra Indrawan, menyatakan bahwa angka pengguna QRIS tersebut menunjukkan peningkatan yang signifikan setiap tahunnya, baik dalam hal jumlah pengguna maupun volume transaksi yang dilakukan. Dwi Putra mengapresiasi upaya berbagai pihak, terutama dari sektor perbankan, yang telah berkontribusi dalam penyediaan metode pembayaran ini. Namun, ia juga menekankan bahwa angka pengguna QRIS di Malut masih tertinggal dibandingkan dengan daerah-daerah lain di wilayah timur Indonesia seperti Maluku, Papua, Papua Barat, Sulawesi Barat, bahkan Gorontalo dan Sulawesi. Oleh karena itu, Dwi Putra menekankan pentingnya meningkatkan upaya dalam memperluas penggunaan QRIS agar Maluku Utara tidak tertinggal dalam perkembangan sistem pembayaran digital di Indonesia. Saat ini, terdapat empat kabupaten/kota di Malut yang terlibat dalam pelaksanaan QRIS, yaitu Ternate, Tidore, Sofifi, dan Tobelo. Kegiatan implementasi QRIS di daerah ini berlangsung dari tanggal 12 hingga 18 Agustus 2024 dengan berbagai rangkaian acara. Dirinya juga menghargai kerjasama semua pihak terkait yang telah berkontribusi dalam kelancaran kegiatan ini. Bank Indonesia, sesuai dengan mandat undang-undang, bertanggung jawab untuk memelihara stabilitas sistem pembayaran guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Bank Indonesia memiliki tiga dimensi yang menjadi fokus: stabilitas, pertumbuhan, dan inklusi. Untuk mencapai ketiga dimensi tersebut, BI berkomitmen penuh dalam mendorong sistem pembayaran yang cepat, mudah, murah, aman, dan handal. Dwi Putra juga menambahkan bahwa inovasi QRIS yang diluncurkan sejak tahun 2019 menjadi game changer dalam sistem pembayaran digital. QRIS tidak hanya memberikan efisiensi bagi transaksi di pasar, tetapi juga memberikan manfaat kepada para merchant. Dengan adanya sistem pembayaran non-tunai, pengguna kini dapat melakukan transaksi hanya dengan menekan tombol di ponsel pintar mereka, tanpa harus menyediakan uang tunai, asalkan saldo di rekening mencukupi. Inovasi ini diharapkan dapat meningkatkan penerimaan daerah, khususnya dalam hal perpajakan, serta mendukung pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut. ANTARA