**Borneonews**, Jakarta - Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), mengumumkan bahwa pertumbuhan ekonomi pada tahun 2025 diperkirakan akan mencapai 5,2 persen. Perkiraan ini didasarkan pada dukungan utama dari permintaan domestik. Dalam pidato penyampaian Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) tahun 2025 serta Nota Keuangan pada Sidang Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI untuk Tahun Sidang 2024-2025, Presiden Jokowi menekankan pentingnya pengendalian inflasi yang akan dijaga pada kisaran 2,5 persen.
Presiden Jokowi menyampaikan bahwa, mengingat kondisi ekonomi global yang masih terkait stagnasi, Indonesia harus lebih berfokus pada permintaan domestik untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Hal ini mengindikasikan bahwa ketahanan ekonomi Indonesia sangat bergantung pada kekuatan daya beli masyarakat dan pengelolaan sumber daya domestik.
Saat melihat ke depan, peran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) diharapkan dapat lebih dimaksimalkan untuk memperkuat kemajuan guna menghindari jebakan pendapatan menengah (middle-income trap). Jokowi menggarisbawahi pentingnya memanfaatkan bonus demografi, melanjutkan transformasi ekonomi, meningkatkan daya tarik investasi, serta menciptakan lebih banyak lapangan kerja sebagai strategi utama.
Presiden juga menekankan bahwa daya beli masyarakat harus dijaga dengan ketat. Ini akan dicapai melalui pengendalian inflasi, penciptaan lapangan kerja, dan dukungan terhadap program bantuan sosial serta subsidi. Kerangka kerja ini diharapkan dapat membantu menjaga kesejahteraan masyarakat dalam situasi ekonomi yang menantang.
Lebih lanjut, pemerintah berkomitmen untuk meningkatkan produk-produk bernilai tambah tinggi yang berorientasi ekspor. Ini akan didukung oleh insentif fiskal yang kompetitif, dengan tetap menjaga keberlanjutan fiskal sebagai prinsip utama dalam pengelolaan keuangan negara.
Pemerintah juga akan menjaga hubungan yang baik antara kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan. Tujuannya adalah untuk mengakselerasi pertumbuhan ekonomi sambil menjaga stabilitas sistem keuangan yang berkelanjutan.
Dalam aspek moneternya, nilai tukar rupiah diperkirakan akan berada di sekitar Rp16.100 per dolar AS. Suku bunga Surat Berharga Negara (SBN) untuk jangka 10 tahun diperkirakan berada di angka 7,1 persen. Pemerintah berjanji akan tetap responsif terhadap dinamika perubahan di pasar moneter dunia.
Tidak hanya itu, harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) diperkirakan akan mencapai 82 dolar AS per barel. Sementara itu, produksi atau lifting minyak diperkirakan mencapai 600 ribu barel per hari, dan produksi gas bumi mencapai 1,005 juta barel setara minyak per hari. Data ini menunjukkan bahwa pemerintah masih optimis dalam pengelolaan sumber daya alam untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
ANTARA
Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Diperkirakan 5,2 Persen pada 2025
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Mundari Minta Isenmulang FC Tak Pandang Sebelah Mata PSIM Yogyakarta
Pemerintah Revisi Perpres 26/2026 untuk Impor Minyak Berbagai Negara
Bupati Lamandau Dorong Pemenuhan Gizi dan Fasilitas demi Prestasi Atlet
Menko Bahlil Perintahkan ESDM Berpihak pada Kepentingan Rakyat
DPRD Kotim Kunjungi Seruyan, Bahas Strategi Pengembangan Usaha Perikanan
Musorkab KONI Lamandau 2026 Dorong Penguatan Pembinaan dan Prestasi Atlet
Komentar (0)
Memuat komentar…







