BORNEONEWS, Palangka Raya - Tak terasa 16 hari sudah, kita menjalankan ibadah puasa bulan suci Rahamadhan 1437 H. Tidak terasa pula Hari Raya Idul Fitri pun semakin dekat. Segenap lapisan masyarakat di berbagai daerah juga mulai mempersiapkan diri untuk mudik lebaran.
Kota, tempat mereka mencari nafkah sehari-hari akan ditinggalkan sejenak demi berkumpul bersama keluarga di kampung halaman. Ada orang berkata, semakin dekat lebaran, kota akan semakin sepi. Kemudian semakin dekat lebaran, desa akan semakin ramai.
Ya, wajar. Karena orang yang di desa itu lebih banyak mengadu nasib di kota. Sehingga ketika hari raya tiba, mereka termasuk bagi yang sudah memiliki rumah serta keluarga di kota pun tetap mudik ke kampung halamannya.
Mudik lebaran adalah suatu hal yang paling menyenangkan. Sebab, kita akan bertemu keluarga dan keluarga yang dirumah pun pasti menanti kedatangan kita. Dan mungkin itu juga baru bisa dilakukan dalam satu atau dua tahun sekali.
Oleh sebab itu, sangat dianjurkan bagi siapa saja yang hendak mudik lebaran untuk selalu berhati-hati terlebih lagi membawa seorang balita.
Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Palangka Raya Ahmad Hidayat, membagi tips agar pemudik memperhatikan kondisi kesehatan saat mudik lebaran.
Dari sisi jalur udara
Menurutnya, bagi pemudik yang membawa seorang balita, disarankan menutup kedua telinga menggunakan kapas, baik ketika hendak take off maupun landing. Sebab, gangguan pada balita biasanya terjadi pada saat take off dan landing.
“Untuk kategori balita, yang jelas kalau belum boleh sebulan tidak boleh ikut terbang. Jadi sejak lebih dari itu sampai sekitar usia 5 tahun,”kata Ahmad Hidayat kepada Borneonews di kantornya, Jalan Adonis Samad, Palangka Raya, Selasa(21/6/2016).
Berikut cara mengatasi balita jika merasa telinganya sakit. Pertama, orang tua menyediakan susu dalam botol apabila tidak minum ASI. Susu tersebut diberikan menjelang take off atau landing. Fungsinya yakni dengan meminum susu itu, tekanan pada rongga telinga dapat diminimalisir.
“Di atas lima tahun kadang juga masih merasa sakit. Tapi kan sudah tahu bagaimana cara menelan apakah susu, air atau liur. Yang jelas pada prinsipnya dia bisa menelan sesuatu baik ludah atau air. Makanya kalau terbang biasanya diberi permen,” ungkapnya.
Mengenai minyak angin apakah perlu dibawa, itu tidak dianjurkan. Sebab, aroma minyak angin dapat mengganggu penumpang lain. “Kalau bisa sih dihindari. Kalau memang kurang fit, mungkin sebelumnya bisa diminumi obat-obatan,” saranya.
Selain itu, tidak perlu membawa barang bawaan terlalu banyak. Jika perlu, semua barang bawaan dimasukan dalam bagasi saja. Sehingga barang yang dapat mengganggu mobilitas perjalanan dapat dihindari.
Dari sisi jalur darat
Menurutnya, persiapan mudik dengan jalur darat lebih berat dari lainnya. Karena kondisi tubuh harus benar-benar vit. Terkait darat ini, pihak KKP akan bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng untuk melakukan pemeriksaan terhadap para kru maupun sopir guna menghindari terjadinya kecelakaan.
Mengenai pemudik yang menggunakan motor dengan membawa buah hati yang masih balita? Hidayat tidak menganjurkan. “Kalau bisa dihindari. Dan kami tidak menyarankan (menggunakan motor). Apalagi bertiga bersama anaknya. Karena jelas, motor digunakan bertiga kan melanggar aturan lalu lintas. Kalau punya balita, lebih bagus hindari naik motor deh,” katanya.
Namun fakta di lapangan banyak ditemui pemudik yang berkendara lebih dari dua orang. Termasuk membonceng si buah hati yang masih balita itu.
“Serba repot juga. Secara aturan memang tidak boleh, tapi real di lapangan memang banyak terjadi. Kalaupun terpaksa seperti itu, ya pengamanan terhadap anak harus lebih. Baik dari sisi helm, jaket, mantel dan lain-lain. Dan sering kita jumpai bahwa justru anaknya yang tidak memakai helm,” ujar Ahmad Hidayat.
Dari sisi jalur air
Hal-hal yang perlu dipersiapkan yakni mengenakan baju tebal. Sebab, jalur air biasanya berkaitan dengan angin. Kedua, sebelum naik dalam kapal, alangkah baiknya untuk membeli lalu mengecek peralatan pelampung.
“Kalau prinsip saya, jika melalui jalur air, saya sering membawa pelampung sendiri. Karena sering kejadian apalagi ini mudik untuk lebaran. Yakni antara jumlah peralatan keselamatan dan jumlah penumpang itu tidak berimbang,” katanya.
“Kita cuma menjaga segala kemungkinan, bukan berarti mau celaka. Sehingga apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, kita bisa menyelamatkan diri menggunakan pelampung sendiri,” ujarnya.
Sementara untuk balita atau anak, kata dia, orang tua bisa lebih dulu memberinya obat mabok apabila si buah hati mabok perjalanan.
“Yang sering kejadian anak capek, rewel dan orang tua capek maka emosi akan cepat naik. Jadi upayakan bagaimana menjaga kondisi fisik, mental dan bagaimana caranya supaya anak tidak terlalu capek,” kata Ahmad.
“Yang jelas yang perlu dipersiapkan adalah susu, baju hangat, peralatan kesehatan seperti obat anti mabuk dan demam serta peralatan keselamatan,” tuntasnya. (BUDI YULIANTO/m)








