**Borneonews**, Jakarta - Kampanye antirokok dapat menjadi salah satu solusi untuk mencegah meningkatnya jumlah perokok, khususnya di kalangan remaja. Dr. Mega Febrianora, Sp.JP(K), FIHA, FAPSC, CRFC, seorang dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, menyatakan bahwa pentingnya pendekatan baru dalam mengajak remaja untuk menjauhi kebiasaan merokok.
Dalam sebuah diskusi daring bertajuk "Merdeka Dari Asap Rokok" yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan, Dr. Mega menyarankan agar kampanye antirokok berfokus kepada remaja dengan tema seperti Keren tanpa merokok. Menurutnya, jika kampanye tersebut dilakukan oleh para remaja sendiri, maka kemungkinan untuk mempengaruhi teman sebaya menjadi lebih besar.
Dr. Mega juga menggarisbawahi pentingnya peran remaja putri dalam kampanye tersebut. Hal ini dikarenakan remaja putri sering kali menjadi perhatian remaja putra, terutama di masa pubertas. "Itu mungkin cara yang paling taktikal," pungkasnya.
Lebih lanjut, Dr. Mega menegaskan bahwa metode yang hanya melarang atau menginformasikan dampak negatif dari rokok tidak cukup efektif dalam mengurangi kecenderungan remaja untuk mencoba merokok. Sebaliknya, dia mencatat bahwa semakin sering remaja dilarang, keinginan mereka untuk mencobanya justru semakin meningkat. Oleh karena itu, menciptakan tren baru tentang kehidupan sehat tanpa rokok perlu dicoba sebagai alternatif.
Keterlibatan lingkungan, seperti sekolah dan keluarga, juga sangat penting untuk mendorong remaja agar tidak merokok. Dr. Mega menjelaskan bahwa jika seorang remaja tumbuh dalam lingkungan yang menganggap merokok sebagai hal yang biasa, maka mereka akan lebih sulit untuk terhindar dari kebiasaan tersebut. "Ini membentuk pola pikir bahwa merokok adalah hal yang wajar, terutama di kalangan laki-laki," ujarnya.
Dia juga mengingatkan remaja untuk tidak terjerumus dalam pertemanan yang tidak sehat. Munculnya istilah "social smoker" di kalangan remaja menunjukkan bahwa banyak dari mereka merokok hanya untuk menjaga harga diri saat berkumpul dengan teman. Dr. Mega mendorong remaja untuk mencari lingkungan pertemanan yang lebih positif, seperti bergabung dalam aktivitas yang lebih sehat, misalnya grup lari yang kini tengah tren.
Data dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) Tahun 2023 yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa jumlah perokok aktif terus meningkat. Kelompok usia 15-19 tahun mencatatkan angka perokok terbanyak, mencapai 56,5 persen, diikuti oleh kelompok usia 10-14 tahun yang sebesar 18,4 persen.
Dr. Mega menambahkan bahwa telah ada beberapa peraturan baru yang diharapkan dapat menurunkan jumlah perokok di Indonesia. Salah satunya adalah Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, yang menaikkan batas usia minimal untuk merokok dari 18 menjadi 21 tahun. Hal ini diharapkan dapat mengurangi jumlah remaja yang terpapar kebiasaan merokok.
ANTARA
Kampanye Anti Rokok, Upaya Mencegah Perokok Remaja di Indonesia
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Timnas Indonesia U15 Menang Telak atas Fiji, Hariri dan Dicky Dua Gol
Leo/Daniel Kandas di Semifinal French Open
Polres Barito Timur Kerahkan 38 Personel Padamkan Karhutla di Murutuwu
Veda Ega Sebut Tugasnya Belum Usai Setelah Berada di Pole Position
Sembilan Hari Risnayati Hilang, Pencarian Terkendala Kabut Asap Karhutla
Indonesia Lampaui Target Emas Asian Para Games 2026
Komentar (0)
Memuat komentar…







