JAKARTA –
**Borneonews**, Jakarta - Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menyampaikan dorongannya agar lahan rawa di daerah Sumatera Utara diolah secara teknis dan konstruktif untuk dijadikan lahan produktif. Menurutnya, lahan rawa tidak boleh dibiarkan begitu saja, melainkan perlu dilakukan rekayasa agar dapat dimanfaatkan secara optimal. "Jadi rawa itu nggak cuma dibiarkan rawa, tapi bagaimana rawa itu betul-betul kita engineering, kita konstruksi sehingga bisa menjadi lahan produktif," ungkap Wamentan dalam keterangan yang diterima di Jakarta. Ia telah melakukan kunjungan kerja ke Sumatera Utara serta mengikuti Rapat Koordinasi Perluasan Areal Tanam (PAT) yang berlangsung di Markas Komando Daerah Militer (Kodam) I Bukit Barisan di Medan. Selama kunjungan tersebut, Wamentan mengajak jajaran pemerintah setempat untuk lebih proaktif dalam memanfaatkan lahan rawa yang ada sebagai lokasi pertanian yang produktif. Ia menegaskan bahwa meskipun pada musim hujan rawa akan dipenuhi air, hal tersebut bukanlah masalah besar. Air pada lahan rawa dapat dibendung untuk menjaga produktivitas tanaman. "Artinya, begitu musim hujan tiba, rawanya penuh air. Pada saat kemarau kan sedikit air bisa ditanami. Nah gimana kita bendung supaya pas musim hujan tetap bisa ditanami, sehingga yang tadinya lahan rawa bisa panen sekali setahun, bisa dua kali setahun, cukup-cukup bisa lebih baik dari itu," jelasnya. Wamentan juga menggarisbawahi komitmen Kementerian Pertanian untuk memperluas areal tanam padi di Sumatera Utara demi mencapai swasembada pangan. Tujuan utama dari inisiatif ini adalah untuk meningkatkan produksi beras serta memastikan ketahanan pangan di provinsi itu. Dalam dalam konteks ini, ia mencatat bahwa capaian PAT di Provinsi Sumatera Utara saat ini masih terbilang rendah, dengan luas lahan yang baru dimanfaatkan mencapai 4.000 hektar. Oleh karena itu, ia meminta jajaran di Dinas Pertanian Sumatera Utara untuk mempercepat realisasi program ini. PAT merupakan upaya Kementerian Pertanian untuk menjaga produksi pangan strategis, khususnya padi, agar tetap bertahan di tengah ancaman kekeringan dan fenomena El Nino. Dalam pelaksanaannya, PAT mencakup optimalisasi lahan rawa, penanaman padi gogo, serta solusi pompanisasi yang cepat. Lebih lanjut, Sudaryono menjelaskan bahwa kecepatan pencapaian target PAT akan berpengaruh pada peningkatan persentase produktivitas. Ia mengungkapkan bahwa desain Oplah telah mencapai 99 persen dan sudah dilengkapi dengan Sistem Informasi Data (SID). "Pak Kadis kalau ini dicapai lebih cepat, tentu presentasenya akan cepat meningkat," ucapnya. Ia juga meminta dukungan dari jajaran TNI, khususnya Kodim, untuk turut membantu dalam memperluas areal tanam di daerah tersebut. Wamentan berharap agar seluruh pihak bersinergi untuk mempercepat penyelesaian program ini. "Nah ini kami mohon betul-betul untuk bisa, karena desainnya sudah ada. Maka kami mohon kepada semuanya untuk menjadi perhatian," ungkapnya. Meski demikian, Wamentan memberi apresiasi kepada capaian pompanisasi di Sumatera Utara yang telah mencapai 80 persen hingga tanggal 10 Agustus 2024. Dari target seluas 49.704 hektare, realisasi saat ini telah mencapai 43.218 hektare. "Pompanisasi target 49 ribu hektare, bukan berarti kalau sudah 49 ribu terus berhenti. Boleh Pak, 100, 120, 200 persen boleh. Bukan terus dibatasi, hanya boleh segitu. Jadi boleh lebih banyak," katanya. Wamentan menambahkan bahwa hingga akhir tahun, total target PAT Sumatera Utara adalah 97.000 hektare, di mana 30 persen di antaranya merupakan optimasi lahan rawa. Di sisi lain, ia mengingatkan Badan Urusan Logistik (Bulog) untuk segera melakukan penyerapan hasil panen secara maksimal. Menurutnya, peran Bulog sangat penting, terutama mengingat target Optimasi Lahan (Oplah) Rawa di Sumatera Utara cukup besar, yakni sekitar 30.000 hektare. "Jangan sampai orang sudah bekerja siang dan malam. Jadi ini menjadi perhatian sehingga harganya tidak jatuh," ujarnya. ANTARA