BORNEONEWS, Kobar - Pelangsir bahan bakar minyak (BBM) makin berani. Paska turunnya harga BBM jenis premium atau bahan bahar khusus (BBK) jenis Pertamax, Pertalite. Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU), dikuasai pelangsir. Sejumlah pelangsir tak takut lagi menggunakan jeriken saat melakukan aksinya.

Tentu saja ulah beberapa pelangsir yang menggunakan motor dengan  kapasitas pengisian BBM besar dan jeriken yang diikat di jok belakang kendaraan dikeluhkan oleh pengendara lainnya.

Seperti yang tampak di SPBU Cagar Patra Jalan Iskandar, tepatnya di depan Kampus Untama, Selasa (21/6/2016), beberapa kendaraan terang-terangan membawa jeriken untuk mengisi BBM jenis premium. Sejumlah kendaraan kapasitas tanki besar itu mengular menguasai lajur pengisian bensin premium.

Adi, warga RT 017, Perum. Bumi Asih, Desa Pasir Panjang, Kecamatan Arut Selatan (Arsel), Kotawaringin Barat (Kobar), mengeluhkan ulah pelangsir tersebut. Ia menilai SPBU-SPBU di Kobar tidak mau berkaca dengan peristiwa musibah beberapa waktu lalu. Menurutnya, ulah pelangsir tersebut membahayakan karena rentan terjadinya kebakaran.

"Ulah mereka sangat merugikan konsumen dan risiko kebakaran besar seperti beberapa waktu lalu, kalau sampai terjadi hal serupa yang dirugikan adalah seluruh konsumen, karena akan kembali berkurang tempat pelayanan pengisian BBM," keluh Adi.

Ia juga menyarankan agar setiap SPBU membuat garis atau batas bagi konsumen untuk menyalakan kendaraannya. Hal ini bertujuan agar konsumen tidak langsung menghidupkan kendaraan sementara di sebelahnya masih dalam proses pengisian.

"Kontak arus listrik dari pengapian kendaraan berbahaya, jadi harus ada batas untuk menghidupkan kendaraan, namun hal ini membutuhkan komitmen baik dari pemerintah, pemilik SPBU dan kesadaran masyarakat," kata Adi.

Sementara itu, Purnomo, warga Kelurahan Baru, mengungkapkan hal yang sama. Ia menegaskan saat ini premium masih menjadi bahan bakar yang diminati konsumen. Ia ke SPBU hanya untuk mengisi paling banyak 3 liter namun, akibat ulah pelangsir ia harus mengantri lebih lama dan terbuang waktu sehingga lebih memilih membeli eceran.

"Konsumen menjadi serba salah, kita mengisi di SPBU untuk satu liter premium Rp6.450 tapi mengantrinya membutuhkan waktu lama. Sementara di eceran waktu singkat tapi harga Rp8 ribu-Rp9 ribu, ini kan konyol," keluh dia.

Menurut Purnomo, kesenjangan harga yang signifikan inilah yang menjadi incaran pelangsir karena keuntungan lebih besar. Ia juga mengungkapkan saat ini BBK jenis Pertamax dan Pertalite juga sudah dirambah pelangsir, terbukti di tingkat eceran kedua jenis BBK yang baru diluncurkan ini nampak di sejumlah gerai pengecer. (KOKO SULISTYO/N).