JAKARTA –
**Borneonews**, Jakarta - Pemerintah Indonesia berusaha memperkuat hilirisasi sektor perkebunan kelapa sawit pada tahun 2025. Langkah ini diambil dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani, mendukung kinerja ekspor, serta mengembangkan energi terbarukan melalui program biodiesel 35 (B35) dan 40 (B40). Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, dalam konferensi pers RAPBN 2025, hilirisasi menjadi salah satu andalan penting bagi Republik Indonesia, baik dari sisi tambang maupun dari sektor sawit. Optimalisasi nilai ekspor komoditas sawit juga sangat bergantung pada pajak ekspor dan tarif bea keluar yang diterapkan. Kinerja ekspor sawit Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Pada tahun 2015, ekspor sawit tercatat mencapai 16,8 miliar dolar AS, yang setara dengan Rp264,86 triliun, dengan kurs hari ini di angka 1 dolar AS sama dengan Rp15.765. Sementara itu, pada tahun 2023, angka ini meningkat menjadi 23,9 miliar dolar AS atau Rp376,79 triliun. Sri Mulyani juga menekankan pentingnya stabilisasi harga sawit pada ambang yang wajar untuk menjaga kesejahteraan petani. Pemerintah berkomitmen untuk menjaga ketersediaan dan keterjangkauan harga produk *crude palm oil* (CPO) beserta turunannya bagi konsumen, termasuk produk biodiesel. Volume penyaluran biodiesel di Indonesia menunjukkan tren peningkatan. Pada tahun 2015, volume penyaluran biodiesel tercatat sebesar 0,92 juta kiloliter. Angka ini meningkat menjadi 2,24 juta kiloliter pada tahun 2023. Peningkatan ini memiliki dampak positif terhadap penghematan devisa impor solar, yang mencapai Rp3,7 triliun pada tahun 2015 dan semakin meningkat menjadi Rp121,5 triliun pada tahun 2022. Selain berkontribusi pada penghematan devisa, program pengembangan energi terbarukan ini juga berupaya mengurangi emisi karbon. Pada tahun 2023, pengurangan emisi telah mencapai 32,7 juta ton karbondioksida ekuivalen (CO2e), meningkat dari 2,4 juta ton CO2e sebelumnya. Di samping komoditas kelapa sawit, sektor pertanian juga mencakup komoditas prioritas hilirisasi lainnya untuk periode 2025–2029, seperti karet, kelapa, dan kakao. Upaya hilirisasi ini diharapkan dapat memberikan dampak positif tidak hanya bagi para petani tetapi juga bagi perekonomian Indonesia secara keseluruhan. ANTARA