JAKARTA –
**Borneonews**, Jakarta - Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, telah sembilan tahun tidak memimpin Upacara Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia untuk internal partainya. Hal ini disampaikan oleh Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, dalam pernyataannya di kawasan Lenteng Agung, Jakarta. Atas permintaan dari pengurus anak ranting dan satgas partai, Megawati akhirnya bersedia untuk memimpin Upacara HUT Ke-79 RI yang akan berlangsung pada 17 Agustus 2024 di Sekolah Partai. Hasto menekankan bahwa pengurus dan kader partai merupakan fondasi utama yang selalu berjuang bersama, tidak mengenal rasa takut meskipun dalam masa-masa sulit. Dalam pidatonya, Hasto menjelaskan bahwa pidato Megawati mengingatkan kembali akan esensi kemerdekaan. Kemerdekaan harus membangkitkan jiwa-jiwa merdeka agar rakyat tidak merasa takut dalam proses pembangunan. “Rakyat tidak takut menghadapi berbagai ancaman. Bahkan ketika melawan pemerintahan kolonial Belanda, ada yang berani menghadapi tiang gantungan dengan kepala tegak,” ungkap Hasto. Sebagai Inspektur Upacara HUT Ke-79 RI di Masjid At-Taufiq, Megawati menjelaskan bahwa Proklamasi Indonesia pada 17 Agustus 1945 mengandung pesan-pesan penting yang perlu disampaikan kepada seluruh anak bangsa. Menurut Megawati, Proklamasi merupakan penegasan bahwa Indonesia telah menjadi negara berdaulat yang bertujuan untuk mewujudkan keadilan dan kemakmuran, sebagaimana diungkapkan oleh Soekarno, Proklamator RI. Megawati menekankan bahwa Proklamasi mengandung pesan perjuangan yang sangat signifikan. Ia menyatakan bahwa dengan kemerdekaan, bangsa Indonesia kini berhak menentukan nasib sendiri. “Hanya bangsa yang berani meletakkan nasib bangsa dan tanah air di tangan kita sendiri, akan berdiri dengan kuat,” tambahnya. Pesan penting lain yang disampaikan Megawati adalah perlunya negara untuk menggelorakan jiwa merdeka dalam diri rakyat. "Jiwa merdeka, lahir dan batin, adalah jiwa kebangsaan yang menyatu dengan Tanah Air Indonesia," ujarnya. Jiwa merdeka inilah, lanjut Megawati, yang membuat rakyat Indonesia tidak mengenal rasa takut, bahkan ketika dihadapkan pada berbagai bentuk penindasan, baik itu penindasan politik, ekonomi, maupun yang menggunakan hukum sebagai alat kekuasaan. Lebih jauh, Megawati menjelaskan bahwa Proklamasi juga menegaskan komitmen negara untuk melindungi seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali. Dalam konteks ini, ia menyebutkan bahwa Proklamasi melahirkan kewajiban untuk melindungi segenap bangsa, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta berperan aktif dalam menjaga ketertiban dunia. Pesan-pesan ini, menurutnya, sangat relevan dan harus terus diingat oleh seluruh rakyat Indonesia. ANTARA