JAKARTA –
**Borneonews**, Teluk Jakarta - Purnawirawan TNI AL yang tergabung dalam Persatuan Purnawirawan Angkatan Laut (PPAL) merayakan HUT Ke-79 Kemerdekaan Republik Indonesia di atas KRI Rajiman Wedyodiningrat-992, sambil berlayar di Perairan Teluk Jakarta pada hari Sabtu. Kegiatan ini mencerminkan pengabdian para prajurit Jalasena yang telah bertugas selama puluhan tahun. Dalam kesempatan tersebut, Ketua PPAL Laksamana TNI Purn Siwi Sukma Adji menyampaikan bahwa acara ini adalah suatu momen untuk mengenang dan merasakan satu denyutan nadi sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Siwi menekankan bahwa kegiatan ini juga sebagai ungkapan terima kasih kepada para pahlawan yang telah berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Mereka, kata Siwi, memberikan warisan yang berharga bagi generasi muda. Purnawirawan TNI AL memandang penting untuk mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi penerus bangsa, khususnya di kalangan masyarakat maritim dan generasi muda maritim. "Marilah kita bersama-sama menghargai dan mencintai negara dengan menunjukkannya melalui tindakan nyata," ujarnya. Peringatan HUT Ke-79 Kemerdekaan Republik Indonesia juga bertepatan dengan HUT Ke-38 PPAL. Siwi menjelaskan bahwa sebagai para orang tua yang telah purna tugas, mereka ingin memberikan warisan dan nilai-nilai kepada generasi penerus. Nilai-nilai ini semakin relevan mengingat tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini. Dalam upaya menyebarluaskan nilai-nilai tersebut, PPAL telah menyusun sebuah buku berjudul 'Tantangan Pembangunan Mental Generasi Prajurit Jalasena Menuju Kejayaan Angkatan Laut'. Buku ini membahas pentingnya pemahaman karakter generasi muda, terutama yang sangat akrab dengan teknologi modern seperti ponsel pintar atau *smartphone*. Siwi juga menggarisbawahi bahwa ancaman terhadap generasi muda kini muncul dalam bentuk yang lebih halus, salah satunya melalui *proxy war*, yaitu perang yang dilakukan oleh kekuatan besar dengan memanfaatkan pihak ketiga tanpa langsung terlibat. Dalam konteks ini, *proxy war* berpotensi menghancurkan negara dengan kekuatan non-militer atau melalui perang yang berlangsung secara senyap. Dampak dari *proxy war* ini dapat mengubah tujuan nasional untuk mengikuti kepentingan negara pengendali, serta menimbulkan hilangnya identitas dan kearifan bangsa. Hal ini berpotensi merusak integritas nasional dan menjadikan bangsa terjajah secara ideologi, ekonomi, dan budaya, serta kehilangan kemandiriannya. Karena itu, buku yang disusun oleh PPAL merupakan langkah proaktif untuk menghadapi kemajuan zaman dan tren kehidupan generasi muda saat ini. Ini merupakan upaya untuk menangkal infiltrasi *proxy war* di Indonesia dan melindungi kepentingan nasional dari pihak-pihak yang berusaha melemahkan dan menghancurkan generasi muda melalui pengaruh yang halus, hingga mereka tidak sadar telah terpapar paham ideologi global. ANTARA