JAKARTA –
**Borneonews** - Jakarta - Tujuh puluh sembilan tahun yang lalu, Soekarno dan Hatta, dua tokoh Bapak Bangsa, memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Peristiwa bersejarah ini menandakan bahwa bangsa Indonesia berhasil menaklukkan segala bentuk penjajahan yang pernah ada. Perjuangan menuju kemerdekaan ini tidak dapat dipisahkan dari keduanya, yang dikenal sebagai Dwi Tunggal. Gelar ini merupakan pengakuan dari rakyat Indonesia bahwa Soekarno dan Hatta tidak bisa dipisahkan satu sama lain; mereka saling mengisi dan mendukung dalam perjuangan untuk bangsa. Berkaitan dengan hal ini, surat-surat yang ditulis Bung Hatta untuk Soekarno menggambarkan integritas di mana persahabatan seharusnya menjadi prioritas utama di atas kepentingan politik. Putri pertama Bung Hatta, Meutia Farida Swasono, yang akrab dipanggil Meutia Hatta, memberikan kesaksian mengenai dukungan yang tak henti diberikan ayahnya kepada Presiden Soekarno, meskipun Bung Hatta telah mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Wakil Presiden pada tahun 1956. Dalam peluncuran Pameran Arsip Bung Hatta yang berlangsung di Gedung Pameran Tetap Arsip Statis Presiden Soekarno, Jakarta Barat, sekaligus memperingati Hari Ulang Tahun ke-122 Bung Hatta pada 12 Agustus 2024, Meutia menyampaikan, “Bung Karno dan Bung Hatta, walaupun mereka tidak bersama dan tidak sejalan lagi, Bung Hatta tetap menulis surat kepada Bung Karno dan itu tidak diumbar. Walaupun misalnya saat itu ada media sosial, Bung Hatta tidak akan menyampaikannya, karena nasihat beliau adalah untuk Bung Karno, dan ini adalah urusan antara sahabat dengan sahabat.” Hubungan baik antara Soekarno dan Hatta tetap terjalin meskipun seringkali terdapat perbedaan pendapat. Ini menjadi pelajaran penting bahwa meskipun Bung Hatta tidak lagi mendampingi Soekarno di kursi kepemimpinan, keduanya tetap berjuang untuk kemajuan bangsa sesuai dengan Pancasila yang telah dirumuskan bersama rakyat Indonesia. Rasa kebersamaan yang kuat dalam relasi tersebut terasa oleh mereka yang berada di sekitar Soekarno dan Hatta, termasuk Meutia. Ia menggambarkan bagaimana kepentingan mereka selalu didasari oleh semangat untuk memajukan bangsa, yaitu antara para pejuang yang saling mendukung demi kejayaan Indonesia. Dari komunikasi Dwi Tunggal Soekarno-Hatta ini, terdapat pelajaran berharga tentang pentingnya pemimpin bangsa memiliki visi yang serupa dalam menghadapi berbagai tantangan. Selain itu, melalui kerjasama Dwi Tunggal, generasi muda diharapkan dapat belajar tentang cara memimpin dan menjaga negara agar tidak menyimpang dari tujuan awal demi kemajuan Indonesia. “Menjadi contoh yang penting bahwa pejabat itu tidak boleh saling memaki, harus saling memahami benar atau salahnya, dan bekerja sama untuk saling meluruskan. Jangan sampai yang satu ke mana, yang lain ke mana, akhirnya bermusuhan dan menjadi tidak waspada, karena nasionalisme bisa luntur dan kita mudah terkena serangan dari luar,” tegas Meutia. Meutia kemudian mengisahkan bahwa Hatta adalah salah seorang yang beruntung karena bisa menempuh pendidikan selama kurang lebih sebelas tahun di Belanda. Meskipun berasal dari latar belakang non-bangsawan, Hatta berhasil meraih gelar sarjana ekonomi pada tahun 1932. Tahun yang sama, ia bertemu Soekarno di Bandung setelah Soekarno keluar dari Penjara Sukamiskin. Selama di Belanda, Hatta menyaksikan ketidakadilan yang dialami oleh masyarakat pendatang dan mereka yang bukan keturunan kulit putih. Hal inilah yang mendorongnya untuk kembali ke Tanah Air dan memerdekakan bangsa. Ia ambil bagian dalam organisasi Perhimpunan Indonesia yang terdiri dari para mahasiswa Indonesia yang belajar di luar negeri. “Bung Hatta bertekad, ketika kembali ke Indonesia, tidak mau lagi sekolah untuk menjadi manajer atau meneruskan bisnis kakeknya, tetapi beliau ingin memerdekakan Indonesia,” ujar Meutia. Data dari Ensiklopedia Sejarah Indonesia (ESI) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi menunjukkan bahwa Soekarno dan Hatta adalah representasi pejuang kemerdekaan yang berjuang di jalurnya masing-masing. Pada tahun 1926, Hatta diangkat menjadi Ketua Perhimpunan Indonesia, sementara Soekarno mendirikan Partai Nasional Indonesia pada tahun 1927. Meskipun keduanya berada di tempat yang berbeda, mereka tetap memiliki tujuan yang sama: Indonesia merdeka. Sesampainya di Indonesia, Hatta melanjutkan perjuangannya melalui Pendidikan Nasional, sedangkan Soekarno bergabung menjadi Ketua Partai Indonesia (Partindo). Menurut Media, kolaborasi Soekarno dan Hatta bukan hanya sekadar untuk Proklamasi kemerdekaan, namun mereka terikat oleh satu rasa dan satu hati untuk memerdekakan bangsa serta memikul tanggung jawab sebagai proklamator untuk merealisasikan kemerdekaan secepatnya demi Indonesia yang berdaulat, bersatu, adil, dan makmur. Dalam Pameran Arsip Bung Hatta, Pelaksana Tugas Kepala Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) Imam Gunarto mengungkapkan bahwa salah satu arsip menarik yang dipamerkan adalah pernyataan bersama yang ditandatangani pada 14 September 1957 oleh Bung Karno dan Bung Hatta setelah Hatta tidak lagi menjabat sebagai Wakil Presiden. Pernyataan tersebut menegaskan komitmen mereka untuk tetap mempertahankan Pancasila dan menjalankan amanat Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 demi kemakmuran bangsa. Setelah tidak menjabat sebagai Wakil Presiden, Hatta lebih banyak berhubungan dengan masyarakat, sementara Soekarno melanjutkan kepemimpinan dalam membangun bangsa. Era ini pun mengajarkan bahwa saat Hatta ingin kritis terhadap Soekarno, ia lebih memilih menyampaikannya melalui surat dan buku untuk menjaga kerahasiaan serta integritas hubungan mereka. Imam menekankan pentingnya menjaga memori kolektif bangsa tentang Dwi Tunggal Bung Karno dan Bung Hatta agar tidak terlupakan. Kekuatan kerjasama antara kedua tokoh ini bisa menjadi inspirasi dalam membangun bangsa. Bagi generasi milenial dan Gen Z, perjalanan hidup Dwi Tunggal bisa menjadi pengingat bahwa kenyamanan saat ini merupakan hasil dari perjuangan Soekarno, Hatta, dan para pejuang kemerdekaan lainnya. Sudah semestinya nilai-nilai perjuangan yang diwariskan dijadikan semangat bagi generasi muda agar tidak menjadi bangsa yang apatis dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara. ANTARA