BORNEONEWS, Puruk Cahu - Pemerintah perlu melindungi para petani karet. Masih lesunya sektor perekonomian masyarakat, termasuk petani karet, perlu solusi segera. Petani karet berusaha keras mempertahankan kegiatannya setelah lebih dari setahun ini harga komoditas karet jatuh, jauh dari harga normal.

Kepala Dinas Perkebunan Murung Raya (Disbun Mura), Ferdinand Wijaya menyampaikan tentu dengan masalah seperti ini para petani semakin terpojokkan sebab yang mereka kerjakan hampir tak sebanding dengan kekuatan yang mereka kerahkan.

"Daerah kita untuk sekarang para petani seakan bekerja mandiri dalam memasarkan hasil buminya tanpa ada bantuan pemerintah, ini yang sekarang kita pikirkan bagaimana cara melindungi mereka karena efek dari harga yang sudah terlampau jatuh ini," ungkap Kepala Disbun Mura, Ferdinand Wijaya, Rabu (22/6/2016).

Menurut Ferdinand untuk contoh perlindungan petani bisa dilihat dari negara tetangga, para petani mendapat perlindungan harga komoditas stabil dengan cara memberikan tayangan harga bila harga di pasar turun anjlok. Kabupaten Mura sudah merencanakan program Subsidi Karet, tetapi dalam prakteknya cukup sulit dilakukan sebab memerlukan dana tidak sedikit.

Kesulitan yang dirasa kurang adanya pengawasan adalah datangnya para petani dari luar kabupaten karena mereka menganggap menjual komoditas mereka lebih menguntungkan dari pada menjual di daerah mereka, sehingga dikhawatirkan para petani Mura terpinggirkan.

"Bentuknya yang sekarang sudah kita lakukan dengan subsidi hulu, maksudnya membantu petani mendapatkan bibit tanaman karet, pupuk atau alat keperluan pendukung lain dengan cara diberikan secara cuma-cuma, baik itu bagi para kelompok tani maupun perorangan," kata Kepala Disbun Mura, Ferdinand Wijaya. (SUPRI ADI/N).