BOGOR –
**Borneonews**, Sukabumi, Jawa Barat - Pawai kemerdekaan di Kelurahan/Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi pada perayaan HUT ke-79 Kemerdekaan Republik Indonesia memberikan kontribusi yang meriah. Dalam acara yang berlangsung pada hari Sabtu tersebut, masyarakat menampilkan beragam karya kreatif berupa produk daur ulang sampah dan barang bekas. Lurah Cibadak, Ridwan Kurniawan, menyatakan apresiasi terhadap kreativitas warga yang memanfaatkan sampah serta barang bekas untuk didaur ulang. Menurutnya, produk-produk yang dihasilkan tidak hanya memiliki nilai estetika dan ekonomi, tetapi juga berkontribusi dalam mengurangi volume sampah. Pawai yang diadakan antar-rukun warga (RW) ini melibatkan peserta dari 22 RW di Kelurahan Cibadak. Tema yang diangkat dalam pawai mencakup aspek lingkungan, seni, budaya, dan perjuangan. Pernak-pernik, miniatur, serta kostum yang digunakan seluruhnya merupakan hasil daur ulang, sehingga menampilkan inovasi dalam penggunaan barang bekas. Berdasarkan pantauan di lokasi, pawai karnaval ini dipusatkan di Lapang Sekarwangi. Salah satu penampilan yang menarik perhatian adalah dari warga RW 03 yang mengangkat tema perjuangan. Para peserta berpakaian layaknya pejuang yang sedang berperang melawan penjajah. Mereka bahkan melengkapi penampilan dengan kostum yang dilengkapi senjata api tiruan, serta replika tank baja dan pesawat terbang yang dibuat dari kardus styrofoam bekas. Untuk meningkatkan semangat peserta, panitia pawai menyediakan hadiah menarik. Seluruh penampilan, kreativitas, dan kekompakan dinilai oleh juri, di mana RW yang memperoleh nilai tertinggi akan mendapatkan penghargaan. Ketua RW 03, Adi Sukmadi, menambahkan bahwa pihaknya ingin menunjukkan kreativitas warganya pada perayaan Hari Kemerdekaan ini. Dalam kegiatan tersebut, mereka memilih tema perjuangan dengan menciptakan replika tank baja dan pesawat terbang dari limbah kardus serta styrofoam. Biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan ini pun tergolong rendah, hanya untuk membeli cat dan kawat. Proses pembuatan karya kreasi ini memakan waktu sekitar satu minggu. Dimulai dari pengumpulan barang-barang bekas yang diperoleh dari warung dan rumah warga, diikuti dengan proses perakitan hingga penyelesaian. Adi Sukmadi juga memberikan apresiasi kepada seluruh warga yang bergotong royong dan menyumbangkan apa yang mereka miliki, sehingga dapat memberikan penampilan terbaik dan unik pada pawai karnaval tersebut. ANTARA