**Borneonews**, Beijing - Penampilan kontras terhampar di perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-79 Republik Indonesia yang berlangsung di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Beijing. Daniel Nebore, seorang pemuda berusia 19 tahun dari Provinsi Papua Barat Daya, merasakan kebingungan ketika melihat sekelilingnya. Bersama 31 rekan satu angkatannya, ia terlibat dalam kegiatan perayaan tersebut, meskipun tampilan mereka yang berbeda menarik perhatian beberapa orang di sekitarnya.
Warna kulit yang coklat gelap, rambut keriting, dan mata besar menjadi ciri khas yang membedakan Daniel dan teman-temannya dari sebagian besar pengunjung lainnya. Di antara mereka, terdapat dua orang yang mengenakan pakaian adat Papua, lengkap dengan rok rumbai dan rompi mirip kulit, yang turut serta dalam upacara tersebut sebagai petugas.
Kelompok pemuda asal Papua Barat Daya ini terbagi menjadi dua, dengan 16 orang di antaranya mahasiswa dan mahasiswi Jining Polytechnic, Provinsi Shandong, sedangkan 16 lainnya berasal dari Kota Soring, Ibu Kota Papua Barat Daya. Daniel sendiri sedang menempuh pendidikan di Jurusan "Software Engineering." Rekan-rekannya yang juga menuntut ilmu di Jining Polytechnic memilih berbagai jurusan, termasuk Teknologi Kendaraan Listrik, Manajemen Proyek Konstruksi, dan Bisnis.
Daniel dan teman-temannya telah menetap di Jining sejak Januari 2024 untuk mempelajari bahasa Mandarin. Mereka mengungkapkan rasa bahagia bisa berpartisipasi dalam acara tersebut. "Bahasa Mandarin itu susah, tapi kami tetap belajar karena kami punya tujuan besar dalam kuliah ini," ujarnya. Kesempatan untuk belajar di luar negeri diperoleh berkat beasiswa dari pemerintah Provinsi Papua Barat Daya, setelah mereka berhasil melewati tiga tahap tes termasuk tes kemampuan akademis dan bahasa Inggris.
Setelah hampir delapan bulan berada di China, mereka memiliki kesempatan untuk tampil di pentas sebagai bagian dari acara Indonesian Fair 2024: Gempita Merdeka yang diselenggarakan oleh KBRI Beijing. Mereka hadir di tempat tersebut sejak pukul 09.00 untuk mengikuti upacara bendera, dan terus bernyanyi serta menari hingga sekitar pukul 18.00, saat hujan mulai mengguyur.
Penampilan mereka yang paling serius menampilkan lagu "Indonesia Jaya," yang diciptakan oleh Chaken M dan dipopulerkan oleh Harvey Malaiholo, dan "Tanah Airku" yang diciptakan oleh Ibu Soed. Penampilan tersebut membawa suasana hikmat di antara pengunjung. Tari nusantara dan tari yospan yang dibawakan juga mendapat sambutan hangat, mengundang para penonton untuk ikut berpartisipasi karena gerakannya yang mudah diikuti.
"Kalau tari nusantara itu kami sendiri yang buat di kampus, ada teman yang membuat gerakannya," jelas Daniel. Sketsa kebudayaan mereka yang kaya dipadukan dengan lagu-lagu nasional dan juga lagu-lagu populer yang dikenali banyak orang, menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung.
Perayaan "Indonesia Fair 2024: Gempita Merdeka" merupakan kerja sama antara KBRI Indonesia, Kadin Indonesia Komite Tiongkok (KIKT), dan Kantor Bank Indonesia Perwakilan Beijing. Acara ini bahkan sebelum dimulai pada pukul 11.00 sudah dipadati pengunjung, dengan jumlah pendaftar yang mencapai 5.000 orang, sehingga pendaftaran terpaksa ditutup pada H-3 acara.
Sekitar 300 peserta turut serta dalam upacara, yang terdiri dari berbagai kalangan, termasuk kelompok "Yinni Guiqiao," yang merupakan orang-orang yang lahir atau tinggal di Indonesia sebelum pindah ke China pada periode 1950-1960. Para peserta upacara, termasuk Daniel dan rekan-rekannya, mengisi waktu dengan berfoto sebelum registrasi dimulai.
Acara ini turut menampilkan sebanyak 20 stan yang menyuguhkan berbagai produk kuliner dan kerajinan khas Indonesia. Antrean pengunjung tidak kunjung surut di beberapa stan, termasuk salah satu restoran Indonesia di Beijing, Nom Nom, yang menyajikan kuliner seperti sate, cendol, dan batagor. Pemilik Nom Nom, Anisah Rahmawati, bahkan menyiapkan ribuan porsi untuk memenuhi permintaan yang sangat tinggi dari pengunjung.
Tidak hanya itu, berbagai produk lain seperti kain batik dan makanan khas juga ludes terjual. Beberapa stan lain juga mencatat penjualan yang signifikan, di mana penjualan produk-produk kuliner bisa mencapai omzet yang mengesankan, seperti 12.849 RMB dari usaha anggota Dharma Wanita KBRI Beijing.
Reaksi positif datang dari pengunjung yang menyatakan ketertarikan mereka terhadap masakan Indonesia yang mereka cicipi. Namun, meskipun para pengunjung sangat menikmati kuliner dan penampilan seni, hasil kuis yang diadakan oleh Kepala Perwakilan KBRI Beijing menunjukkan bahwa pengetahuan umum tentang Indonesia di kalangan warga lokal masih minim. Banyak yang kesulitan menjawab pertanyaan sederhana terkait Indonesia, seperti jumlah penduduk atau ulang tahun kemerdekaan.
Koordinator Fungsi Penerangan Sosial dan Budaya KBRI Beijing, Dewi Avilia, menyebutkan kegembiraan para penjual dan pengunjung meski sempat khawatir akan kemungkinan cuaca hujan. Pengalaman ini menunjukkan pentingnya upaya lebih lanjut untuk meningkatkan pemahaman tentang Indonesia di masyarakat China, serta meningkatkan interaksi budaya antar negara.
ANTARA
Perayaan HUT ke-79 RI di Beijing, Tampilkan Kebudayaan Papua Barat Daya
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Kapolres Seruyan Tinjau Posko Karhutla di Taman Nasional Tanjung Puting
Kimi Antonelli Pole Position di GP Amerika Serikat 2026
Cuaca Buruk Batalkan Balapan Moto2 dan Moto3 GP Australia
BMKG: Waspadai Peningkatan Suhu di Siang Hari saat Peralihan Musim
Jangan Nekat Buang Sampah Sembarangan! Kelurahan MB Hilir Siap Tindak Pelanggar
RI-Rusia Jajaki Transfer Teknologi Tingkatkan Pengawasan Obat-makanan
Komentar (0)
Memuat komentar…







