JAKARTA –
**Borneonews**, Moskow – Laporan dari *Wall Street Journal* (WSJ) menyebutkan bahwa Amerika Serikat (AS) tidak membagikan informasi intelijen kepada Ukraina terkait dengan target-target di wilayah Rusia. Hal ini dilakukan karena risiko menyebarkan kesan bahwa AS mendukung serangan Ukraina di wilayah Kursk. Pernyataan ini didasarkan pada keterangan seorang pejabat tinggi AS yang diungkapkan kepada media tersebut. Pemerintah AS, khususnya Gedung Putih, telah membantah keterlibatan AS dalam perencanaan serangan pasukan Ukraina di dekat Kursk. Selain itu, Departemen Luar Negeri AS juga secara tegas menolak untuk mengakui adanya dukungan AS dalam serangan di kawasan tersebut. Penolakan ini menunjukkan sikap AS yang berhati-hati untuk tidak terlibat langsung dalam konflik yang terjadi di antara Ukraina dan Rusia. Di sisi lain, media Bloomberg melaporkan bahwa Ukraina tengah mempertimbangkan beberapa skenario untuk melancarkan serangan mendadak ke Rusia. Mereka mengklaim bahwa pemimpin AS dan Uni Eropa telah memberikan "restu" untuk serangan ini, yang akan menjadi invasi pertama ke wilayah Rusia sejak akhir Perang Dunia II. Namun, laporan WSJ menekankan bahwa Ukraina tidak mendapatkan dukungan yang cukup dari AS dan sekutunya yang diperlukan untuk melakukan serangan yang berhasil ke wilayah Rusia. Sumber dari kalangan pemerintahan AS mengungkapkan bahwa mereka "tidak percaya" bahwa pasukan Ukraina memindahkan sistem HIMARS (High Mobility Artillery Rocket System) ke dalam wilayah Rusia. Mereka meyakini bahwa tentara Ukraina kemungkinan besar menggunakan sistem tersebut dari area perbatasan yang masih berada dalam wilayah Ukraina. Pada 16 Agustus, Kementerian Pertahanan Rusia mengumumkan bahwa unit-unit mereka telah berhasil menggagalkan upaya serangan oleh pasukan Ukraina yang berusaha menyerang wilayah Rusia, khususnya di Kursk. Mereka melaporkan telah menghancurkan tiga peluncur HIMARS di wilayah Sumy melalui serangan rudal presisi tinggi. Kementerian Pertahanan Rusia juga menyatakan bahwa untuk pertama kalinya pada 16 Agustus, pasukan Kiev telah menyerang sasaran sipil di Kursk menggunakan rudal yang diproduksi di Barat, yang kemungkinan berasal dari sistem HIMARS. Sejak 6 Agustus, unit tentara Ukraina telah berusaha merebut wilayah di Kursk, namun gerakan mereka berhasil dihentikan, demikian disampaikan oleh Kepala Staf Umum Rusia, Valery Gerasimov. Dalam laporan yang sama, Kementerian Pertahanan Rusia menyebutkan bahwa dalam pertempuran di arah Kursk, Angkatan Bersenjata Ukraina telah mengalami kerugian besar, dengan kehilangan hingga 2.860 tentara dan 41 tank. Presiden Rusia, Vladimir Putin, menyatakan bahwa rezim Kiev telah melakukan provokasi dengan penembakan yang tidak terkendali, termasuk terhadap sasaran sipil. Putin menegaskan bahwa semua langkah yang diambil oleh pihak musuh akan mendapatkan respons yang layak, dan semua tujuan Rusia akan tercapai. ANTARA