JAKARTA –
**Borneonews**, Washington - Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, pada Jumat (16/8) menyampaikan rasa optimismenya terkait kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza. Dalam pernyataannya, ia menyebutkan bahwa hingga satu jam sebelum konferensi pers, proses negosiasi masih berlangsung. "Saya optimis. Namun, perlu dicatat, kesepakatan itu masih belum selesai. Hanya ada beberapa masalah yang belum disepakati. Saya percaya kita memiliki kesempatan," ujar Biden kepada wartawan saat ditanya tentang kemajuan pembicaraan tersebut. Biden menekankan pentingnya menjaga proses perdamaian dengan mengatakan tidak ada pihak di Timur Tengah yang seharusnya mengambil tindakan yang bisa merusak upaya menuju kesepakatan tersebut. Pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken, melakukan perjalanan ke Israel untuk melanjutkan upaya penyelesaian kesepakatan gencatan senjata. Poin penting dari kesepakatan ini adalah mencakup pertukaran sandera yang dipegang oleh Israel dan tahanan Palestina. Kunjungan Blinken dilakukan setelah Amerika Serikat, Mesir, dan Qatar menginformasikan bahwa mereka telah menyampaikan sebuah "usulan penghubung" kepada Israel dan Hamas. Usulan ini bertujuan untuk mempersempit kesenjangan yang ada dan memungkinkan implementasi kesepakatan secara cepat. Pernyataan bersama dari ketiga negara tersebut menggambarkan diskusi yang berlangsung di Doha, ibu kota Qatar, sebagai "serius dan konstruktif," dengan suasana yang positif. Namun, detail spesifik mengenai usulan baru tersebut belum dipublikasikan. Para mediator menyatakan usulan tersebut konsisten dengan prinsip-prinsip yang telah ditetapkan oleh Presiden Biden pada tanggal 31 Mei 2024 dan dengan Resolusi Dewan Keamanan No. 2735, yang menyambut baik inisiatif yang diajukan oleh Biden. Selain itu, dijadwalkan akan ada pertemuan lanjutan di Kairo antara pejabat senior dari ketiga negara tersebut sebelum akhir pekan depan, dengan tujuan untuk mencapai kesepakatan berdasarkan ketentuan yang telah diajukan hari itu. Negosiasi ini juga melibatkan sejumlah tokoh penting, termasuk Direktur CIA William Burns, Perdana Menteri Qatar Mohammaed bin Abdulrahman Al Thani, kepala Intelijen Mesir, Abbas Kamel, serta Direktur Mossad Israel, David Barnea. Namun, Hamas menolak untuk berpartisipasi dalam diskusi terkini, mendesak Tel Aviv agar mematuhi perjanjian yang telah disepakati pada Juli, yang mendapatkan dukungan dari Biden dua bulan sebelumnya. Pandemi kembali menyoroti situasi tragis di Gaza, dimana lebih dari 40 ribu warga Palestina dilaporkan tewas sejak Israel memulai serangan di wilayah tersebut pada Oktober 2023. Sebagian besar dari para korban adalah perempuan dan anak-anak. Wilayah pesisir yang luas juga telah hancur akibat pemboman yang terus menerus, mengubah lingkungan tersebut menjadi puing-puing. ANTARA