**Borneonews**, Jakarta - Mantan Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin (LHS) menyatakan bahwa agama dan budaya adalah satu kesatuan yang, meskipun terdapat perbedaan, tidak seharusnya dipisahkan. Menurut Lukman, nilai-nilai agama yang berasal dari Tuhan memerlukan wadah untuk dapat teraktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa wadah tersebut, nilai-nilai ini hanya akan melayang tanpa arah. Wadah yang dimaksud oleh Lukman adalah budaya.
Pernyataan ini disampaikan Lukman saat menjadi narasumber dalam diskusi mengenai relasi agama dan budaya yang diinisiasi oleh Majelis Hukama Muslimin (MHM) pada Islamic Book Fair 2024. Ia menjelaskan bahwa Indonesia dapat bertahan dan mendapat banyak apresiasi dari masyarakat dunia karena adanya harmoni antara agama dan budaya. Keduanya telah menjadi modal penting dalam menjalani kehidupan dari dahulu hingga kini, serta menjadi pijakan untuk masa depan.
Lukman menegaskan bahwa ajaran agama, nilai-nilai kebajikan, dan budaya merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, meskipun dapat dibedakan. Ia menekankan pentingnya budaya dalam mengaktualisasikan agama. Tanpa adanya budaya, ajaran agama tidak akan dapat dipahami dengan baik. Budaya sendiri merupakan cara manusia dalam merespons berbagai isu yang dihadapi, dan respons tersebut kemudian terwujud dalam bentuk kebiasaan, tradisi, dan adat istiadat.
Ia juga menjelaskan ada dua jenis ajaran agama, yaitu universal dan partikular. Ajaran universal mengandung kebenaran yang diakui oleh seluruh umat manusia, tanpa memandang suku, negara, atau agama, bahkan oleh mereka yang tidak beragama. Contoh ajaran universal tersebut meliputi kemanusiaan, keadilan, dan persamaan di depan hukum. Lukman menggarisbawahi bahwa praktik diskriminatif akan selalu ditolak oleh agama. Kemaslahatan juga merupakan pokok ajaran agama, sehingga segala bentuk kerusakan akan selalu ditolak dalam konteks agama.
Terkait ajaran agama yang partikular, Lukman menjelaskan bahwa perbedaan pemahaman di antara umat yang memiliki agama yang sama tetap ada. Misalnya, dalam praktik Shalat Subuh, pandangan mengenai penggunaan qunut bisa berbeda. Ia juga menjelaskan bahwa dalam hal ziarah kubur atau tradisi lainnya, perbedaan di antara sesama Muslim adalah hal yang umum.
Kontribusi agama terhadap budaya sangat penting bagi Lukman. Tanpa adanya budaya, agama tidak akan dapat membumi. Budaya, di sisi lain, pastinya beragam karena merupakan respons manusia dalam menginterpretasikan ajaran agama. Ia menekankan bahwa meskipun terdapat perbedaan budaya, inti ajaran agama tetap harus dijunjung tinggi dan tidak boleh diingkari dengan alasan apapun.
Di tempat yang sama, Guru Besar Filologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Oman Fathurahman, turut menjelaskan peran agama dalam mempromosikan keragaman budaya dan sebaliknya. Menurut Prof. Oman, keragaman budaya merupakan ciri khas Indonesia dan Asia Tenggara, dan agama memiliki peran penting dalam proses tersebut.
Oman memberikan contoh Sarung Batik, yang menjadi ciri khas Muslim Indonesia, meskipun jenis pakaian tersebut tidak digunakan maupun dikenal di Arab. Sarung Batik sebagai budaya dikenal di luar Indonesia sebagai salah satu ciri Muslim Indonesia karena dipromosikan. Agama berperan dalam mempromosikan keragaman budaya, ujar Oman.
Ia melanjutkan, Atas nama mempraktikkan ajaran agama, kita juga mengenal budaya pakaian gamis dan mukena sebagai cara untuk menutup aurat, beserta tradisi lainnya. Penjelasan ini menggambarkan bagaimana interaksi antara agama dan budaya dapat berlangsung secara harmoni dan saling menguatkan.
ANTARA
Agama dan Budaya Satu Kesatuan yang Tak Terpisahkan
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya Evaluasi Pelaksanaan PJJ di Tengah Kabut Asap
Ini 2 Lokasi Depot Air Gratis di MB Ketapang Sampit
Oli Berceceran di Bundaran Besar Jalan Pemuda Kapuas
Anak Beruang Madu yang Terpisah dari Induknya Diselamatkan Warga Seruyan
Meski Awal Musim Hujan di Kapuas Diprediksi November, El Nino Berpotensi Kurangi Intensitas Hujan hingga 2027
Induk Orangutan Terluka Tetap Jaga Anaknya di Tengah Kepungan Karhutla Desa Kandan Kotim
Komentar (0)
Memuat komentar…







