MEDAN –
**Borneonews**, Medan - Kantor Cabang Bulog Medan mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan tindakan beli berlebihan atau *panic buying*, khususnya untuk beras. Hal ini disampaikan dengan menekankan bahwa stok beras di daerah tersebut dalam kondisi aman hingga akhir tahun. Pemimpin Kantor Cabang Bulog Medan, Rafki Ismael, menjelaskan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir mengenai ketersediaan beras. Rafki menyatakan, "Masyarakat diimbau tidak perlu *panic buying* untuk membeli beras, karena stok yang kami kelola di Sumut cukup sampai akhir tahun." Pihak Bulog, lanjutnya, memiliki cadangan yang memadai, didukung oleh pemasukan beras baru yang direncanakan tiba pada bulan September mendatang. Lebih lanjut, Rafki memaparkan bahwa beras yang diperoleh berasal dari berbagai sumber, termasuk pemenuhan komoditi dari luar negeri seperti Thailand, Vietnam, Myanmar, Pakistan, dan Kamboja. Selain itu, pihaknya juga mengedukasi mengenai penyerapaan beras dari petani lokal. Rafki menegaskan bahwa saat ini harga hasil panen dari petani cukup baik, berkisar antara Rp11.700 hingga Rp11.900 per kilogram. Sementara itu, harga pokok pembelian (HPP) yang ditetapkan oleh pemerintah adalah Rp11.000. Rafki juga menambahkan bahwa saat ini mereka belum dapat menyerap dengan maksimal, namun terdapat beras komersial yang dapat digunakan untuk penyerapannya. Di bulan September, akan ada bantuan pangan dari pemerintah guna memenuhi kebutuhan masyarakat hingga akhir tahun. Rafki menuturkan, "Bantuan pangan nantinya ke luar dua bulan sekali sampai Desember, jadi kami didukung pemerintah untuk ketersediaan pangan beras tersebut." Perum Bulog Kantor Wilayah Sumatera Utara juga telah menetapkan target untuk penyaluran beras Stabilitas Pasokan Pangan dan Harga Pangan (SPHP) tahun 2024 sebesar 75.000 ton. Rincian penyaluran tersebut mencakup Cabang Medan sebanyak 32.500 ton, Pematangsiantar sebanyak 7.500 ton, dan Asahan juga sebanyak 7.500 ton. Dengan penegasan ini, diharapkan masyarakat dapat berbelanja dengan bijak dan tidak terbawa arus kekhawatiran berlebih mengenai ketersediaan beras di pasaran. ANTARA