**Borneonews - Padang**, Penerapan keuangan digital semakin meluas di Ranah Minang, sebagaimana terlihat dalam kebiasaan masyarakat yang kini mulai beralih ke sistem pembayaran yang lebih modern. Dazul, seorang penduduk Kota Bukittinggi, baru-baru ini menghabiskan waktu berkualitas bersama istri dan anaknya di sebuah restoran di Kota Pariaman. Mereka menikmati berbagai hidangan, termasuk bakso Betawi dan es campur, sebagai bagian dari pengalaman kuliner mereka.
Usai makan, Dazul mendapati bahwa ia tidak memiliki uang tunai yang cukup. Dengan aktif, ia bertanya kepada kasir apakah bisa melakukan pembayaran menggunakan kartu debit. Sayangnya, mesin *Electronic Data Capture* (EDC) yang ada di restoran mengalami kendala, sehingga kasir menawarkan alternatif pembayaran melalui *Quick Response Code Indonesian Standard* (QRIS). Dalam sekejap, Dazul membuka aplikasi *mobile banking* di telepon pintarnya dan menyelesaikan transaksi secara digital.
Ketersediaan opsi pembayaran digital seperti QRIS di restoran tersebut mencerminkan peningkatan yang signifikan dalam metode transaksi. Hal ini tidak hanya memudahkan konsumen, tetapi juga mengurangi kerumitan bagi pemilik usaha yang tidak perlu menyediakan uang kembalian. Kasir restoran, Awi, mengonfirmasi bahwa penggunaan QRIS telah diterapkan di tempatnya selama lima tahun terakhir. Penerapan ini berangkat dari kebutuhan akan transaksi yang lebih efisien, terutama di tengah kesulitan dalam menemukan uang kembalian pecahan kecil.
Di akhir pekan, Kota Pariaman menjadi tujuan wisata yang ramai, dengan banyak pengunjung dari berbagai daerah, termasuk provinsi tetangga seperti Riau. Wisatawan tidak hanya mencari destinasi menarik, tetapi juga berperan dalam meningkatkan jumlah kunjungan ke restoran-restoran lokal yang menawarkan kuliner khas. Omzet restoran yang dikelola Awi setiap akhir pekan bisa mencapai antara Rp8 juta hingga Rp10 juta, sebagian besar berasal dari transaksi yang dilakukan menggunakan QRIS.
Meskipun keberadaan keuangan digital telah membawa banyak kemudahan, sistem ini tidak luput dari tantangan. Salah satu tantangan terbesar adalah memastikan akses internet yang stabil dan memadai. Di Provinsi Sumatera Barat, upaya untuk memperkuat keuangan digital terus dilakukan, di mana Bank Indonesia Perwakilan Sumbar melaporkan bahwa volume dan nilai transaksi QRIS mengalami pertumbuhan yang signifikan. Pada akhir semester I 2024, tercatat 12.403.837 transaksi QRIS, meningkat 245,60 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Kota Padang menjadi daerah dengan transaksi QRIS tertinggi, mencapai 6.476.251 kali, diikuti oleh Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Payakumbuh. Secara keseluruhan, nilai transaksi QRIS di Sumbar hingga semester I 2024 mencapai Rp1,62 triliun, mengalami pertumbuhan 185,55 persen dibandingkan dengan semester I 2023. Sektor usaha mikro mendominasi pertumbuhan jumlah *merchant* QRIS, mencerminkan adaptasi masyarakat terhadap sistem pembayaran yang lebih modern.
Bank Indonesia Perwakilan Sumbar, melalui Kepala Mohamad Abdul Majid Ikram, menegaskan perlunya memaksimalkan penggunaan keuangan digital. Pada tahun 2024, institusi ini menargetkan penambahan 12.322.920 transaksi, dengan pencapaian yang sudah melampaui target yang telah ditetapkan. Hingga akhir triwulan II 2024, jumlah *merchant* QRIS di Ranah Minang mencatat angka 514.577, meningkat 27,32 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Untuk memperluas jaringan pengguna QRIS, Bank Indonesia menyiapkan beberapa skema untuk meningkatkan penggunaan di daerah pelosok dan sektor transportasi. Selain itu, mereka juga berencana mempercepat digitalisasi dalam penyaluran bantuan sosial. Langkah-langkah tersebut merupakan bagian dari upaya untuk memajukan ekonomi dan mencapai digitalisasi keuangan yang inklusif di seluruh Indonesia.
Saat momen perayaan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-79, Bank Indonesia semakin menegaskan komitmennya untuk merangkul sektor keuangan digital. Komitmen ini tidak bisa hanya bergantung pada lembaga keuangan saja, melainkan memerlukan dukungan dari pemerintah dan masyarakat agar QRIS dapat berkembang secara menyeluruh, termasuk di daerah-daerah terpencil seperti Kabupaten Kepulauan Mentawai yang potensial tetapi masih kurang dalam hal infrastruktur telekomunikasi.
Pemerintah Pusat telah berupaya memperkuat jaringan telekomunikasi di wilayah tersebut, tetapi perhatian lebih diperlukan untuk memastikan bahwa daerah-daerah ini tidak tertinggal dalam penerapan keuangan digital. Bank Indonesia juga mendorong kolaborasi antara institusi keuangan dan penyedia jasa telekomunikasi untuk memastikan ketersediaan infrastruktur yang dibutuhkan.
Dalam konteks keamanan, Bank Indonesia juga menekankan pentingnya upaya perlindungan data pribadi dalam sistem keuangan digital. Edukasi kepada pengguna mengenai keamanan dan mekanisme melindungi data keuangan menjadi krusial untuk menghindari kejahatan siber. Salah satu langkah yang akan diambil adalah pengembangan *database* untuk pencatatan nasabah yang melanggar ketentuan bank.
Dengan memperkuat keamanan sistem dan meningkatkan kapasitas pemahaman konsumen, diharapkan pertumbuhan ekonomi nasional, terutama di Ranah Minang, dapat semakin melesat melalui penggunaan keuangan digital yang inklusif dan aman.
ANTARA
Peningkatan Penggunaan Keuangan Digital dan QRIS di Sumbar
Bagikan:

PADANG –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Gol Pablo Comitre Gagalkan Kemenangan Bali United di Markas Persita
Amri/Nita Petik Pelajaran Berharga Setelah Terhenti di French Open
Pelatih Minta Persebaya Bermain Agresif saat Hadapi Madura United
Razia Narkoba, 32 Sopir Angkutan Batubara di Barito Timur Jalani Tes Urine
Ganda Putri Isyana/Rinjani Sabet Gelar Juara Indonesia Masters
Arema FC Libas Dewa United 4 Gol Tanpa Balas
Komentar (0)
Memuat komentar…







