PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Penerjemah Ahli Muda Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah, Rensi Sisilda mengatakan bahwa untuk tahun 2024 ini cerita anak berbahasa Indonesia dan bahasa daerah atau dwibahasa tidak lagi berupa buku fisik melainkan publikasi digital. Hal ini akankah mempengaruhi daerah 3T, mengingat terbatasnya koneksi internet bahkan listrik untuk daerah seperti ini.

"Memang ada beberapa penulis mengungkapkan keprihatinan terkait aksesibilitas di daerah terpencil terhadap cerita yang tidak lagi dicetak melainkan berupa buku digital ya," aku Rensi pada Senin, 19 Agustus 2024.

Sebanyak 110 penulis mengirimkan karya mereka, dan setelah proses seleksi ketat, 50 judul berhasil lolos. Dari jumlah tersebut, 25 judul merupakan karya yang sebelumnya dan baru diterbitkan bersamaan tahun ini. Namun, tahun ini, semua judul menurut Rensi akan tersedia dalam format digital.

"Namun, ada kekhawatiran terkait akses internet di daerah 3T yakni terdepan, terluar, dan tertinggal. Beberapa penulis yang berasal dari daerah ini mengungkapkan bahwa mereka kesulitan mengakses internet karena minimnya sinyal dan listrik. Nah yang seperti ini tentu menjadi perhatian kita juga," kata Rensi lagi.

Menurut Rensi, dirinya pun sudah menyampaikan kekhawatiran ini kepada Badan Bahasa dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Namun nyatanya seluruh Indonesia juga mengalami perpindahan ini.

"Laman Badan Bahasa akan menjadi platform tempat judul-judul ini akan dipublikasikan. Meskipun perubahan ini memungkinkan lebih banyak orang untuk mengakses karya-karya tersebut, tantangan aksesibilitas di daerah terpencil tetap menjadi perhatian," tuturnya lagi.

Dirinya berharap semoga dengan adanya perubahan ini, lebih banyak suara dari berbagai daerah dapat terdengar melalui karya sastra digital.(TESTI PRISCILLA/R)