TANJUNG SELOR –
**Borneonews - Tanjung Selor**, Kementerian Pertanian Republik Indonesia (Kementan RI) memberikan penghargaan kepada para petani yang beroperasi di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia, khususnya yang berada di Kecamatan Sebatik Timur, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Pengenalan ini diberikan atas keberhasilan mereka dalam meningkatkan produksi gabah kering panen (GKP) di tengah tantangan lingkungan seperti ancaman *El Niño* dan krisis pangan global. Staf Ahli Menteri Pertanian yang membidangi Optimalisasi Pemanfaatan Lahan Rawa Mineral, Pamuji Lestari, menyatakan bahwa meski menghadapi berbagai tantangan, petani Sebatik berhasil meningkatkan produksi gabah dari lima ton per hektare menjadi tujuh ton per hektare. Keberhasilan ini menunjukkan kegigihan dan kemampuan petani lokal dalam beradaptasi dengan situasi yang tidak menentu. Kehadiran tim dari Kementan dalam panen raya di wilayah tersebut mencerminkan dukungan konkret dari pemerintah pusat terhadap sektor pertanian di daerah-daerah yang terisolasi. Pamuji Lestari menyoroti bahwa salah satu faktor krusial yang mendukung produktivitas petani di Sebatik adalah program Perluasan Areal Tanam (PAT). Program tersebut memiliki fokus pada tiga komponen utama, yaitu pembukaan lahan baru, peningkatan produktivitas lahan yang sudah ada, serta pengembangan infrastruktur pertanian yang memadai. Salah satu elemen kunci dalam program PAT adalah penyediaan pompa irigasi yang dibutuhkan. Saat ini, sebuah total 354 unit pompa telah disediakan untuk mendukung petani, di mana 251 unit di antaranya sudah didistribusikan ke area yang membutuhkan, dan 103 unit lainnya segera berada dalam proses pengiriman. Pamuji mengingatkan bahwa pemanfaatan pompa-pompa tersebut harus dilakukan secara optimal. Jika terdapat pompa yang tidak digunakan, Kementan berencana untuk menarik dan mendistribusikannya ke lokasi lain yang lebih memerlukan. Meski mengalami kemajuan yang signifikan, para petani di Sebatik masih menghadapi tantangan, terutama dalam hal ketersediaan sumber air yang cukup untuk mendukung irigasi. Oleh karena itu, Pamuji menekankan pentingnya menjamin keberadaan sumber air baik dari sungai, waduk, maupun embung. Untuk daerah yang tidak memiliki sumber air tersebut, sumur bor dapat menjadi alternatif yang patut dipertimbangkan. Diharapkan bahwa program irigasi berbasis pompa ini dapat berlanjut di masa mendatang, dengan pengawasan dan tinjauan yang tepat agar keberlanjutannya dapat terjaga hingga tahun 2025. Dukungan dari pemerintah serta semangat yang tinggi dari para petani diharapkan dapat mendorong pertanian di wilayah perbatasan berkembang lebih lanjut dan berkontribusi terhadap ketahanan pangan nasional. Di sisi lain, Rezki, yang merupakan staf dari Badan Pusat Statistik (BPS) Nunukan di bagian Survei Pertanian, menjelaskan mengenai potensi gabah kering giling (GKG) dari lahan pertanian di Desa Tanjung Aru. Ia mencatat bahwa potensi hasil per hektare dapat mencapai 5.877,4 kilogram, dengan potensi produksi beras yang diperkirakan sebesar 3.979 kilogram per hektare. Angka tersebut cukup signifikan jika dibandingkan dengan hasil ubinan yang dilakukan di beberapa wilayah lain di Sebatik. Misalnya, hasil ubinan di Sebatik Utara menunjukkan angka 3,995 kilogram per plot, sedangkan di Sebatik Barat hanya mencapai 2,6 kilogram per plot. Ubinan sendiri merupakan salah satu metode yang umum digunakan dalam pertanian untuk memperkirakan hasil panen tanaman. ANTARA