JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan mengumumkan bahwa Satuan Tugas (Satgas) Pengawasan Terhadap Barang Tertentu yang Diberlakukan Tata Niaga Impor, yang bertugas untuk memonitor barang impor yang ilegal, baru saja menemukan sejumlah barang dengan total nilai mencapai Rp20 miliar. Dalam sebuah jumpa pers yang dilaksanakan di Kantor Kementerian Perdagangan, Zulkifli menjelaskan bahwa total nilai barang-barang yang berhasil diamankan adalah Rp20.225.000.000. Barang-barang tersebut meliputi beragam produk, antara lain mesin gerinda, mesin bor, ponsel, tablet, panci presto elektrik, mesin cuci mobil, kotak kontak, saklar, serta komoditas yang diwajibkan memiliki Standar Nasional Indonesia (*SNI*). Selain itu, juga terdapat produk tertentu seperti barang tekstil jadi, produk elektronik, bahan plastik hilir, serta berbagai jenis minuman beralkohol kategori A, B, dan C. Lebih lanjut, Zulkifli menyoroti masalah di mana sebagian besar barang hasil pemeriksaan ini tidak mematuhi regulasi yang ada, seperti tidak disertai Laporan Surveyor (*LS*), Nomor Pendaftaran Barang (*NPB*), tidak memiliki standar SNI, serta tidak memiliki layanan purna jual yang seharusnya tersedia. Zulkifli mengungkapkan bahwa Satgas impor ilegal telah melaksanakan pengawasan sebanyak tiga kali sejak dibentuk. Pengawasan pertama dilakukan pada 26 Juli 2024 di Kawasan Pergudangan Kamal Muara yang terletak di Jakarta Utara, di mana produk-produk ilegal yang diselundupkan dari luar negeri diperkirakan bernilai Rp40 miliar. Di antara barang tersebut terdapat ponsel pintar dan tablet senilai Rp2,7 miliar, pakaian jadi senilai Rp20 miliar, barang elektronik yang nilainya mencapai Rp12,3 miliar, serta mainan anak dengan nilai Rp5 miliar. Pengawasan kedua dilakukan di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat pada 6 Agustus 2024, di mana barang yang diamankan diperkirakan bernilai Rp46 miliar, meliputi barang elektronik, tekstil, alas kaki, dan berbagai jenis produk lainnya. Zulkifli berharap dengan hasil temuan ini dapat mengurangi peredaran barang-barang ilegal dan pada akhirnya membantu memulihkan pertumbuhan ekonomi Indonesia. “Saya mendengar banyak kapal yang sebelumnya beroperasi secara ilegal kini berbalik arah, ini tentu akan membantu meredakan peredaran barang-barang ilegal tersebut," tuturnya. Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian yang lebih bergerak dan berkelanjutan. ANTARA