JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi nuklir dalam mendukung riset arkeologi di Indonesia. Hal ini disampaikan oleh Kepala Pusat Riset Arkeometri BRIN, Sofwan Noerwidi, dalam sebuah diskusi di Jakarta. Sofwan menjelaskan bahwa teknologi nuklir memiliki potensi besar untuk meminimalkan kerusakan yang sering terjadi pada cagar budaya di tanah air. Indonesia, yang terletak di garis Khatulistiwa dengan iklimnya yang lembap dan hangat, serta dipengaruhi perubahan iklim dan *global warming*, memerlukan langkah-langkah inovatif untuk melindungi aset budaya. Dalam konteks arkeologi, teknologi nuklir dapat berperan dalam berbagai proses, mulai dari karakterisasi hingga konsolidasi dan preservasi artefak. Sofwan menegaskan bahwa karakterisasi dapat dilakukan dengan bantuan teknologi ini untuk menganalisis keutuhan unsur dalam objek, seperti dalam penentuan keaslian fosil. Dengan demikian, peneliti dapat memahami komposisi mineral yang ada; umumnya, fosil terdiri atas silika, sedangkan pada benda yang belum menjadi fosil, unsur yang dominan adalah kalsium. Lebih lanjut, Sofwan juga menyampaikan bahwa teknologi nuklir, melalui pemindaian sinar X khusus, dapat membantu dalam mengetahui bahan asli dari manuskrip kuno. Hal ini membuka kemungkinan baru untuk melestarikan warisan intelektual yang berharga. Mengenai konsolidasi, Sofwan menjelaskan bahwa proses ini bertujuan untuk menyatukan fragmen-fragmen yang terpisah dari objek arkeologi. Dalam hal ini, teknologi nuklir berfungsi untuk menentukan bahan yang paling sesuai dalam menyatukan bagian-bagian tersebut tanpa merusak artefak aslinya. Selain itu, Sofwan juga menyoroti pentingnya teknologi nuklir dalam proses penyimpanan dan preservasi artefak. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah dengan menyinari objek menggunakan gamma iradiasi pada dosis yang spesifik. Metode ini dirancang untuk menekan kemungkinan pertumbuhan jamur pada artefak, sambil tetap menjaga keutuhan benda tersebut. Muhayatun, seorang peneliti dari Pusat Riset Teknologi Analisis Berkas Nuklir BRIN, turut memberikan pendapat bahwa upaya menggabungkan teknologi nuklir dalam riset arkeologi merupakan langkah strategis. Hal ini menunjukkan sinergi yang baik antara para peneliti dari berbagai disiplin yang ada, sehingga diharapkan dapat meningkatkan kompetensi sumber daya manusia di bidang riset di Indonesia. Dengan demikian, pengintegrasian teknologi nuklir dalam riset arkeologi diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam pelestarian dan pengembangan cagar budaya di Indonesia. ANTARA