**Borneonews - Bengkulu**, Universitas Bengkulu berkomitmen untuk mendukung upaya pelestarian penyu di Kabupaten Bengkulu Tengah, melalui kerjasama dengan Kelompok Pelestarian Penyu Alun Utara. Salah satu fokus utama dari kolaborasi ini adalah meningkatkan kualitas penangkaran dan pembesaran tukik.
Ketua Tim Program Pengabdian Kepada Masyarakat Berbasis Riset LPPM Universitas Bengkulu, Dr. Yar Johan, menjelaskan bahwa selama ini mereka telah aktif bekerja sama dengan kelompok penangkaran tersebut. Dalam beberapa penelitian yang dilakukan, terungkap bahwa banyak tukik yang menetas mengalami kematian, dan masalah tersebut bermuara pada kondisi kolam pembesaran.
Lebih lanjut, Dr. Yar Johan mengungkapkan bahwa kematian yang dialami oleh ratusan tukik tersebut disebabkan oleh kualitas serta sirkulasi air di kolam pembesaran yang tidak memenuhi syarat. Tukik perlu beradaptasi dengan lingkungan alaminya sebelum dilepaskan kembali ke laut. Contoh nyata adalah kematian sekitar 200 tukik yang terjadi baru-baru ini, yang penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa sirkulasi air di kolam tersebut kurang optimal.
Untuk mengatasi permasalahan ini, universitas telah memperkenalkan teknologi filter serta sistem sirkulasi air yang lebih baik dan peralatan untuk mengukur kualitas air. Diharapkan dengan adanya inovasi teknologi ini, potensi kematian tukik dapat diminimalisir sebelum mereka dikembalikan ke habitat aslinya.
Selain meningkatkan kualitas penangkaran penyu, Dr. Yar Johan juga menekankan bahwa LPPM Universitas Bengkulu berfokus pada pengelolaan sampah organik di kawasan pesisir Bengkulu. Anggota tim, Prof. Agustin Zarkani, menyatakan bahwa sampah, terutama yang berasal dari plastik, telah menjadi masalah serius bagi penyu, karena sering kali menyebabkan kematian akibat konsumsi sampah oleh satwa langka tersebut.
Dalam rangka mengatasi permasalahan sampah, tim tersebut juga berupaya memberdayakan perempuan di pesisir untuk mengelola sampah organik. Pengolahan sampah organik diharapkan dapat mengurangi jumlah sampah di pantai, sekaligus meningkatkan kualitas habitat laut dan menciptakan peluang ekonomi bagi masyarakat setempat.
Prof. Agustin menekankan bahwa salah satu solusi untuk pengelolaan sampah organik adalah penggunaan *maggot*, larva lalat, sebagai agen pengurai yang ramah lingkungan. Dengan cara ini, sampah organik dapat dimanfaatkan sebagai pakan ikan, yang akan memberikan nilai ekonomis bagi masyarakat yang turut berpartisipasi dalam pengolahan.
Dr. Nesna Agustriana, anggota tim pengabdian, menambahkan bahwa kesadaran masyarakat dalam menjaga habitat satwa langka sangat penting sebagai langkah awal untuk menghindari kerusakan alam yang dapat berujung pada kepunahan flora dan fauna.
Tim ini juga berupaya untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya kelestarian lingkungan, tidak hanya di kalangan orang dewasa tetapi juga pada anak-anak sejak usia dini. Mereka mengajak anak-anak dari pendidikan usia dini untuk berkontribusi dalam menjaga alam, agar masa depan habitat satwa dan flora yang dilindungi tetap terjaga.
Menurut Dr. Nesna, menanamkan kesadaran sejak usia dini lebih efektif dibandingkan ketika seseorang sudah dewasa. Kegiatan ini diyakini dapat merangsang kecerdasan naturalis anak-anak, membekali mereka dengan pemahaman untuk melestarikan lingkungan.
ANTARA
Universitas Bengkulu Dukung Pelestarian Penyu dan Pengelolaan Sampah
Bagikan:

BENGKULU –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Topan Champi Ancam Taiwan, Sekolah dan Perkantoran Ditutup di 20 Wilayah
Distribusi Masih Jadi Hambatan, Industri Komik Indonesia Dinilai Punya Potensi Besar
Iran Ancam Gunakan Taktik Baru jika AS Kembali Lancarkan Serangan
OJK Kalteng Tekankan Manfaat Nyata Inklusi Keuangan bagi Kesejahteraan Masyarakat
Dokter Jadi Tersangka Dugaan Pencabulan terhadap Anak Kandung Berusia 4 Tahun
Dampak Karhutla bagi Kesehatan Bukan Hanya Gangguan Pernapasan
Komentar (0)
Memuat komentar…







