BORNEONEWS, Nanga Bulik - Panitia Gema Ramadan 2016, di Kabupaten Lamandau menggelar Festival Bagarakan Sahur, tradisi membangunkan orang untuk makan sahur di bulan puasa. Bagarakan Sahur dilakukan berkelompok, memanfaatkan suara, atau bunyi-bunyian sejumlah alat tradisional, kentongan, bedug dan alat-alat sejenisnya.
"Iya, ini tahun ketiga kami laksanakan Festival Bagarakan Sahur. Antusiasme masyarakat cukup tinggi, peserta yang merupakan kelompok, kami berikan keleluasaan waktu untuk tampil," ungkap Koordinator Humas kegiatan Gema Ramadan Lamandau 2016, Megantoro, di sela-sela kegiatan Festival Bagarakan Sahur, di Gedung LPTQ Lamandau, di Nanga Bulik, Kamis (23/6/2016).
Seiring pesatnya perkembangan zaman, tradisi membangunkan warga di bulan puasa untuk sahur ini, kian pudar dan sudah jarang sekali dilakukan. Saat ini, hanya di beberapa desa saja, aktivitas Bagarakan Sahut dapat ditemui. Karena itu, panitia bertekad menyelenggarakan lomba yang tahun ini memasuki tahun ketiga kalinya.
Festival Bagarakan Sahur berlangsung cukup meriah. Para peserta datang dari sejumlah wilayah, seperti Kota Nanga Bulik, juga Kecamatan Sematu Jaya. Para peserta mempertontonkan atraksi menarik, mulai permainan musik tradisional berbagai jenis, seperti rebana, bedug, kentongan, hingga ember sekalipun jadi media yang digunakan. Peserta lomba juga dipersyaratkan menyelipkan pesan-pesan dalam penampilannya, baik pesan sosial atau keagamaan, puasa yang dibalut dalam sebuah nyanyian atau yel-yel.
"Konon menurut para orang tua, Bagarakan Sahur di Lamandau hakikatnya sudah ada sejak lama dan memiliki pesan dan peran positif seperti kebersamaan, saling ingat-mengingatkan dan lain-lain. Untuk itu, prinsipnya kita ingin tradisi itu tidak hilang, salah satu upayanya dengan menggelar festival ini," kata Megantoro. (HENDI NURFALAH/N).








