**Borneonews - Halmahera Selatan**, PT Gelora Mandiri Membangun (GMM), sebuah perusahaan yang beroperasi di bidang industri kelapa sawit di Halmahera Selatan, Maluku Utara, kini tengah berfokus pada optimalisasi pengolahan limbah kelapa sawit menjadi pupuk. Langkah ini diambil guna memastikan bahwa proses produksi tidak menyebabkan pencemaran lingkungan.
Kepala Divisi Laboratorium PT GMM, Anwar Basuki, menjelaskan bahwa perusahaan telah menyiapkan beberapa blok dengan fasilitas seperti rorak dan kolam kecil untuk menampung limbah yang dihasilkan dari pabrik. "Rorak dan kolam kecil ini siap untuk menampung dan mengolah limbah menjadi pupuk," ungkapnya saat wawancara di Ternate.
Anwar menekankan bahwa pengolahan limbah merupakan tantangan signifikan bagi semua sektor industri, termasuk sektor kelapa sawit, untuk memenuhi komitmen dalam mencapai *Net Zero Emission*. Dalam proses pembuatan pupuk, limbah akan dialirkan ke rorak maupun lubang-lubang buntu yang tersedia di setiap divisi perkebunan.
Sebelum proses dialirkan, limbah dari pengolahan kelapa sawit diolah terlebih dahulu melalui tahap *treatment* di kolam pendinginan, yang biasa disebut *cooling pond*. Setelah proses pendinginan, limbah tersebut akan dimasukkan ke dalam kolam anaerob, di mana bakteri anaerob bekerja untuk menguraikan limbah sehingga kadar Biochemical Oxygen Demand (BOD) dan Chemical Oxygen Demand (COD) berkurang, dan pH limbah bisa mencapai angka yang sesuai, yaitu antara 7 hingga 8.
Untuk distribusi limbah ke kebun, perusahaan saat ini masih menggunakan mobil, tetapi ada rencana untuk meningkatkan efisiensi dengan pembuatan pompa. Saat ini, penggunaan pompa telah dilakukan dengan jam operasional dari pukul 07.00 WIT hingga 17.00 WIT.
Di dalam konteks pengolahan limbah kelapa sawit, Anwar menjelaskan bahwa limbah tersebut lebih didominasi oleh limbah organik, yang berarti tidak mengandung bahan berbahaya yang dapat mencemari lingkungan. Terdapat tiga kategori limbah dalam industri kelapa sawit, yaitu limbah cair, limbah janjangan kosong, dan limbah padat dari pengolahan tandan buah segar (TBS).
Lebih lanjut Anwar menyatakan bahwa janjangan kosong tidak termasuk dalam kategori limbah yang berpotensi mencemari lingkungan, melainkan sebagai limbah hasil pengolahan TBS. Selain itu, limbah padat yang menyerupai lumpur juga dimanfaatkan sebagai pupuk, dengan tiga kategori limbah tersebut sepenuhnya digunakan dalam lahan perkebunan, tanpa ada yang dibuang ke lingkungan.
PT GMM berkomitmen untuk meminimalisir kebocoran limbah ke sungai atau lingkungan sekitar. Mereka melakukan pengecekan berkala terhadap kualitas limbah yang digunakan untuk pemupukan lahan. Perusahaan juga bekerja sama dengan ISPO untuk terus memantau potensi pencemaran sungai melalui sistem sumur pantau.
Dalam hal ini, warga desa yang tinggal di sekitar lokasi pabrik merasakan dampak positif dari upaya pengelolaan limbah yang dilakukan oleh PT GMM. Mereka menyatakan bahwa jika ada informasi yang menyebutkan bahwa perusahaan menghancurkan lingkungan, hal tersebut tidak berdasar. Masyarakat dan perangkat desa selalu berusaha melakukan sosialisasi dan pengawasan terkait dampak dari kegiatan perusahaan, termasuk kontrol terhadap limbah yang dihasilkan, yang hingga saat ini masih dikelola dengan baik oleh pabrik.
ANTARA
PT GMM Optimalkan Pengolahan Limbah Kelapa Sawit Menjadi Pupuk
Bagikan:

AMBON –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Distribusi Masih Jadi Hambatan, Industri Komik Indonesia Dinilai Punya Potensi Besar
Iran Ancam Gunakan Taktik Baru jika AS Kembali Lancarkan Serangan
OJK Kalteng Tekankan Manfaat Nyata Inklusi Keuangan bagi Kesejahteraan Masyarakat
Dokter Jadi Tersangka Dugaan Pencabulan terhadap Anak Kandung Berusia 4 Tahun
Dampak Karhutla bagi Kesehatan Bukan Hanya Gangguan Pernapasan
Karhutla Ancam Habitat Orangutan di Kalteng, Patroli dan Evakuasi Satwa Diperkuat
Komentar (0)
Memuat komentar…







