PEKANBARU –
**Borneonews - Rokan Hilir**, Tim pengabdian dari Universitas Riau (Unri) mengadakan pelatihan kepada masyarakat setempat mengenai teknik pengolahan sampah organik yang berasal dari pasar tradisional Bagan Batu. Kegiatan ini bertujuan untuk mengubah sampah tersebut menjadi *eco enzym* dan sabun yang berfungsi sebagai produk ramah lingkungan dalam program pemberdayaan di Kepenghuluan Bagan Batu, Kabupaten Rokan Hilir. Ketua Tim Pengabdian Masyarakat, Chairul ST MT, menekankan pentingnya pemanfaatan sampah organik. Ia menjelaskan bahwa sabun yang dihasilkan dari *eco enzyme* memiliki berbagai khasiat, seperti mampu mengatasi jerawat, menghapus flek hitam, serta memperbaiki tekstur kulit yang kering akibat penggunaan bahan kimia yang umum ditemukan dalam produk sabun komersial. Dengan demikian, mengolah sampah organik menjadi barang yang dapat bernilai jual merupakan langkah yang sangat bermanfaat. Chairul juga memperkenalkan pengertian mengenai *eco enzyme*. Menurutnya, larutan ini merupakan hasil dari proses fermentasi sampah organik yang terdiri dari bahan organik, gula, dan air. Proses tersebut berlangsung selama 90 hari dalam kondisi tanpa udara, yang dikenal dengan metode anaerobik. Hasil akhir dari fermentasi ini adalah cairan berwarna coklat gelap dengan aroma asam segar yang khas, di mana warna dan aroma tersebut sangat dipengaruhi oleh jenis bahan baku yang digunakan. Kegiatan pelatihan ini melibatkan bukan hanya dosen Unri, tetapi juga tim yang terdiri dari para dosen Universitas Sumatera Utara (USU) seperti Prof. Dr. Juliati Br Tarigan Si MSi, Dr. Ir. Nurzainah Ginting MSc, Eko Komelius Sitepu PhD, serta mahasiswa yang mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (Kukerta) Unri. Prof. Dr. Juliati Br Tarigan memberikan penjelasan lebih mendalam tentang karakteristik *eco enzyme* yang berkualitas. Menurutnya, larutan ini harus memiliki pH di bawah 4,0 dengan aroma asam yang segar, serta harus terjamin tidak terkontaminasi. Untuk tujuan medis, larutan ini sebaiknya berumur enam bulan sejak tanggal pembuatan, sedangkan untuk keperluan pertanian, tingkat TDS (Total Dissolved Solids) sebaiknya di atas 5.000 ppm. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan keterampilan masyarakat dalam mengolah sampah organik secara efektif. ANTARA