**Borneonews - Baturaja**, Aktivis dari Forum Masyarakat Peduli Sungai Ogan (FMPSO) mengajukan permintaan kepada Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk menyampaikan hasil kajian terkait penanganan banjir di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), yang terletak di Sumatra Selatan. Permintaan ini muncul agar upaya mitigasi dan pencegahan bencana tersebut dapat dilakukan dengan lebih efektif di masa depan.
Ketua FMPSO OKU, Hendra Setyawan, menjelaskan bahwa saat ini musim kemarau hampir berakhir dan Kabupaten OKU akan segera memasuki musim hujan. Wilayah ini dikenal sebagai daerah yang rentan terhadap bencana banjir, sehingga pemahaman terhadap hasil kajian menjadi sangat penting.
Hendra menambahkan, pemerintah daerah sebelumnya telah berkolaborasi dengan tim peneliti dari BRIN untuk melakukan kajian mendalam dan memetakan masalah banjir yang sering melanda wilayah tersebut. Namun, hingga kini, meskipun tim dari BRIN telah menyelesaikan tugasnya pada akhir Juli 2024, hasil kajian tersebut belum dipaparkan secara resmi kepada masyarakat setempat.
"Kami mendorong agar BRIN segera menyampaikan hasil kajiannya agar Pemerintah Kabupaten OKU, melalui instansi terkait, dapat merumuskan langkah-langkah yang tepat untuk menangani masalah banjir yang terus berulang," ujarnya.
Secara umum, Hendra menjelaskan bahwa penyebab utama banjir di daerah ini adalah semakin banyaknya lahan kritis, yang disebabkan oleh praktik perambahan hutan secara ilegal oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab. Data menunjukkan dari total 70.096,51 hektare kawasan hutan di Kabupaten OKU, sebanyak 64.657,89 hektare mengalami kerusakan yang cukup parah akibat perambahan liar.
Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat bahwa hingga bulan Mei 2024, wilayah ini telah mengalami empat peristiwa banjir. Dua dari peristiwa tersebut terjadi pada bulan Februari 2024, yang mengakibatkan ratusan rumah terendam banjir dan merusak empat jembatan gantung, sehingga aktivitas masyarakat menjadi lumpuh total.
Banjir yang paling parah terjadi pada bulan Mei 2024, di mana banjir bandang melanda daerah tersebut dan merenggut enam nyawa. Kepala BPBD OKU, Januar Efendi, menambahkan bahwa bencana itu berdampak pada 10.816 rumah warga, dengan ketinggian air mencapai dua meter. Dari total rumah yang terdampak, 90 di antaranya mengalami kerusakan parah, termasuk satu unit yang hanyut terbawa arus.
Lebih lanjut, bencana banjir ini juga menyebabkan kerusakan pada berbagai fasilitas umum, antara lain 18 gedung sekolah, 41 rumah ibadah, dan 15 fasilitas pemerintah. Kerugian yang ditimbulkan dari bencana alam ini mencapai miliaran rupiah. Peningkatan kesadaran dan tindakan preventif menjadi kunci untuk mengatasi masalah ini ke depannya.
ANTARA
FMPSO Desak BRIN Paparkan Hasil Kajian Penanganan Banjir OKU
Bagikan:

PALEMBANG –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Arema FC Libas Dewa United 4 Gol Tanpa Balas
Veda Ega Alihkan Fokus ke GP Malaysia Usai GP Australia Batal
Shin Tae-yong Tekankan Pembinaan Usia Dini untuk Majukan Sepak Bola
Madura United Bidik 3 Poin saat Hadapi Persebaya
Tentara Yaman Lumpuhkan Lebih dari 300 Petempur Houthi
Veda Pratama Hormati Keputusan Pembatalan Moto3 Australia
Komentar (0)
Memuat komentar…







