**Borneonews - Nusa Tenggara Timur**, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus mengupayakan peningkatan produktivitas budidaya rumput laut di pulau-pulau terluar, khususnya di Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur. Langkah ini sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk memaksimalkan potensi sumber daya laut yang ada di wilayah tersebut.
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) KKP, Tb Haeru Rahayu, menjelaskan bahwa Sabu Raijua terkenal sebagai salah satu daerah penghasil rumput laut terbesar di provinsi NTT. Menurutnya, kabupaten yang dikelilingi oleh lautan ini memiliki potensi sumber daya laut yang sangat menguntungkan, termasuk komoditas rumput laut yang dianggap sebagai salah satu produk unggulan, setelah garam.
Wilayah NTT umumnya memiliki tingkat curah hujan yang relatif rendah, yang menjadi faktor pendukung bagi perkembangan budidaya rumput laut. Saat ini, lahan potensial untuk budidaya di Sabu Raijua mencapai luas 2.300 hektare, sedangkan lahan yang sudah dimanfaatkan untuk budidaya baru sekitar 311 hektare, atau sekitar 13,16 persen dari total potensi yang ada.
Oleh karena itu, DJPB KKP bertekad untuk lebih mengoptimalkan pemanfaatan lahan budidaya di NTT, termasuk di Kabupaten Sabu Raijua. Salah satu strategi yang diterapkan adalah penyediaan bibit rumput laut *kultur jaringan* (*cultured tissue*) jenis *Eucheuma cottonii*. Strategi ini bertujuan untuk memperbaharui bibit yang sudah tua guna meningkatkan kualitas serta kuantitas hasil budidaya tersebut.
Melalui Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Lombok, DJPB memberikan dukungan berupa bantuan bibit rumput laut *kultur jaringan* kepada kelompok-kelompok pembudidaya di Sabu Raijua. Dukungan ini diharapkan dapat memperkuat posisi NTT sebagai salah satu penghasil rumput laut terbesar di Indonesia. Hal ini juga penting untuk menjaga posisi Indonesia sebagai negara teratas dalam produksi rumput laut jenis *cottonii* di tingkat global.
Program penyaluran bantuan bibit rumput laut tersebut telah berhasil direalisasikan 100 persen pada tahun 2024. Lokasi distribusi bantuan meliputi wilayah Sumbawa, Lombok, dan Bali. Selain itu, BPBL Lombok juga telah mendistribusikan bibit ke Wakatobi dan Sabu Raijua.
Kepala BPBL Lombok, Wawan C. Ashuri, menjelaskan bahwa keunggulan bibit rumput laut *kultur jaringan* dibandingkan dengan bibit konvensional adalah pertumbuhannya yang lebih cepat serta kandungan karagenan yang lebih tinggi. Bibit ini dikembangkan melalui metode *somatic embryogenesis* yang menjanjikan hasil yang lebih baik.
Dengan menggunakan bibit rumput laut *kultur jaringan*, diharapkan kualitas dan kuantitas hasil produksi pembudidaya di NTT dapat meningkat, sehingga produk mereka memiliki daya saing yang lebih baik di pasar, tuturnya.
Wawan juga mengungkapkan bahwa bantuan satu ton bibit rumput laut *kultur jaringan* dapat digunakan untuk lima siklus tanam, bahkan bisa bertahan hingga setahun. Penggunaan satu ton bibit tersebut potential menghasilkan sekitar 20 ton rumput laut basah atau setara dengan 2,5 ton rumput laut kering jika dibudidayakan dengan cara yang sesuai standar.
Rachel Billik Tallo, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sabu Raijua, menyatakan bahwa para pembudidaya di daerahnya sangat bersyukur atas bantuan bibit tersebut. Menurutnya, kualitas bibit yang diperbaiki akan berdampak positif pada hasil produksi, sehingga berdampak pada peningkatan pendapatan mereka.
Saat ini, terdapat sekitar 4.400 pembudidaya rumput laut di Kabupaten Sabu Raijua, yang masing-masing dapat meraih pendapatan lebih dari upah minimum regional (UMR) yang ditetapkan di wilayah tersebut.
ANTARA
Peningkatan Budidaya Rumput Laut di Sabu Raijua NTT Melalui Bibit Unggulan
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Kebakaran Hebat Hanguskan 4 Rumah dan 1 Masjid di Kotim
Saingi China, Pabrik Mobil Jepang Pangkas Masa Pengembangan Model Baru
PDIP Dukung Revisi UU Peradilan Militer Pascaputusan MK
Pemerintah Luncurkan Program Pengawal Energi untuk 3.679 SPBU
BI Kalteng Ingatkan Bahaya Jual Beli Rekening dan QRIS
Kebobolan pada Menit Akhir, Persela Ditahan Imbang De Red FC 2-2
Komentar (0)
Memuat komentar…







