MATARAM –
**Borneonews - Mataram**, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) telah mengambil langkah proaktif dalam pengelolaan sampah dengan menerapkan metode *sanitary landfill* di tempat pembuangan akhir (TPA) Kebon Kongkok, yang terletak di Kabupaten Lombok Barat. Langkah ini diambil seiring dengan meningkatnya volume sampah yang masuk ke TPA tersebut, yang kini sudah mencapai angka 300 ton per hari. Julmansyah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan NTB, menyatakan bahwa penutupan TPA Kebon Kongkok direncanakan akan dilakukan pada tahun depan. Dia menjelaskan bahwa pengelolaan residu sampah di lokasi tersebut akan dilakukan dengan menggunakan metode *sanitary landfill*, yang merupakan salah satu cara untuk mengatasi masalah sampah secara efektif. Metode ini melibatkan penumpukan sampah di area cekung, yang kemudian ditimbun dengan tanah guna mengurangi dampak polusi udara. Selain itu, pada permukaan dasar metode *sanitary landfill*, dilengkapi dengan pipa khusus yang berfungsi untuk mengelola gas metana serta air lindi. Kedua sistem ini penting untuk mencegah pencemaran tanah dan mitigasi risiko ledakan yang dapat terjadi akibat akumulasi gas. Dalam upaya menyikapi penutupan TPA Kebon Kongkok, Julmansyah menambahkan bahwa pihaknya juga akan mengoptimalkan operasional tempat pembuangan sampah terpadu (TPST) Sandubaya yang berada di Kota Mataram. TPST ini akan berfungsi untuk memilah dan mengolah sampah sebelum residunya dikirim ke TPA Kebon Kongkok. Pemerintah NTB berencana untuk meminta dukungan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) guna mendapatkan tambahan alat. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas pengolahan sampah dan mengurangi beban pada sistem *landfill* yang ada. Julmansyah menekankan keyakinannya bahwa dengan beroperasinya TPST di Kota Mataram pada tahun 2025 mendatang, beban pengelolaan sampah di *landfill* akan dapat berkurang secara signifikan. Ini merupakan langkah penting dalam upaya menjaga lingkungan dan memperbaiki kualitas hidup masyarakat. ANTARA