**Borneonews - Jakarta**, Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), dr. Hasto Wardoyo, menekankan pentingnya remaja untuk menguasai keterampilan tingkat tinggi atau yang dikenal dengan istilah *high skill*. Menurutnya, saat ini Indonesia masih berada pada kategori *low skill*, dan para remaja diharapkan dapat mengubah kondisi tersebut.
Dalam sebuah seminar yang berlangsung di Universitas Tarumanegara (Untar), Jakarta Barat, Hasto memberikan pesan kepada mahasiswa agar bersama-sama meningkatkan keterampilan menjadi *high skill*. Dia berpendapat bahwa generasi muda sebagai calon pemimpin di masa depan wajib mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan yang lebih besar.
"Mari kita tingkatkan keterampilan kita secara bersama-sama; jangan terjebak dalam keterampilan yang rendah atau menengah, tetapi fokuslah pada pencapaian keterampilan yang tinggi," ujarnya.
Hasto juga menekankan pentingnya penguasaan teknologi oleh mahasiswa. Hal ini sangat penting agar mereka bisa beradaptasi dan bersaing dalam dunia kerja yang terus berkembang. Ia menjelaskan contoh keterampilan tinggi yang dimilikinya sendiri sebagai seorang ahli di bidang bayi tabung, yang melibatkan kemampuan untuk menggabungkan sperma dan sel telur hingga menjadi embrio.
Dia mengungkapkan bahwa populasi remaja di Indonesia saat ini merupakan yang terbanyak dibandingkan kelompok usia lainnya. Data menunjukkan bahwa remaja berusia 10 hingga 24 tahun mencapai jumlah 64 juta jiwa, sekitar 28,6 persen dari total proyeksi penduduk Indonesia antara tahun 2000 hingga 2025. Dengan data ini, menjadi sangat jelas bahwa perhatian kepada remaja adalah hal yang tidak bisa diabaikan.
Lebih lanjut, Hasto mengingatkan agar generasi muda tidak terjebak dalam situasi "menua sebelum kaya". Dia menjelaskan bahwa hal ini merupakan persoalan serius yang harus diwaspadai. Jika suatu saat bangsa ini mengalami penuaan, tetapi pendapatan per kapita tidak meningkat, maka akan ada risiko terjebak dalam pendapatan kelas menengah yang stagnan.
Berdasarkan data terbaru dari Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) pada Agustus 2023, hampir setengah dari pekerja di usia produktif adalah pekerja informal, dengan persentase sebesar 47,2%. Dalam kelompok ini, pekerja informal perempuan jauh lebih banyak dibandingkan laki-laki, dan lebih dari sepertiga dari pekerja usia produktif tersebut bekerja kurang dari 35 jam per minggu, yang didominasi oleh perempuan.
Sebagai langkah proaktif, Hasto mengingatkan generasi muda untuk mempersiapkan diri agar tidak menganggur setelah menyelesaikan pendidikan. Dia menyarankan agar saat belajar di kampus, mereka memanfaatkan waktu sebaik mungkin. "Dalam satu minggu ada lebih dari 160 jam, namun banyak generasi muda yang hanya bekerja kurang dari 35 jam. Ini menjadi tantangan bagi bangsa yang besar tetapi belum memanfaatkan waktu dengan baik," paparnya.
Tak hanya itu, dia juga menekankan pentingnya menjaga kesehatan mental dan mengurangi stres. Kegiatan positif seperti berolahraga, bernyanyi, berdoa, dan beribadah dapat membantu meningkatkan suasana hati dengan mendorong pelepasan hormon dopamin dari otak. "Lakukanlah hal-hal positif untuk menjaga kesehatan mental," tutup Hasto.
ANTARA
Remaja Diharapkan Kuasai Keterampilan Tinggi untuk Masa Depan
Bagikan:

JAKARTA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Mendagri Prancis: Ribuan Orang Ditahan saat Demonstrasi Lanjutan
Dua Tunggal Putri Indonesia Gagal ke Final Indonesia Masters
Menperin Yakin Produk UMKM Ramah Lingkungan RI Tembus Pasar Global
Yusril: Kebijakan Publik Harus Berorientasi Kepentingan Masyarakat
Raharjati Nursamsa Raih Perak World Climbing Series di Chile
ISPU Kapuas Melonjak dari 1.657 ke 2.406 dalam Sejam, Udara Berstatus Berbahaya
Komentar (0)
Memuat komentar…







