MAKASSAR –
**Borneonews - Makassar**, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan, Rizki Ernadi Wimanda, mengungkapkan bahwa faktor-faktor geopolitik dan harga pasar global saat ini menjadi penghambat bagi perkembangan ekspor dari Sulsel. Menurutnya, meskipun terdapat tantangan yang dihadapi, provinsi ini masih memiliki potensi untuk meningkatkan performa ekspor, yang pada akhirnya dapat memberikan kontribusi positif terhadap perekonomian daerah. Rizki menjelaskan bahwa kinerja ekspor Sulsel saat ini masih terbatas, disebabkan pemulihan ekonomi global yang belum mencapai tingkat optimal. Ketidakpastian yang tinggi dan efek dari konflik geopolitik telah menghalangi pertumbuhan yang lebih baik. Namun, ia menambahkan bahwa salah satu solusi yang bisa dipertimbangkan adalah pemberian insentif daerah yang berbasis ekspor. Lebih lanjut, Rizki menyoroti pentingnya subsidi dan premi ekspor sebagai langkah strategis untuk mengoptimalkan kinerja ekspor dari Sulsel di masa depan. Upaya tersebut diperlukan untuk mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan di sektor ini. Salah satu komoditas unggulan dari Sulsel adalah rumput laut, dan akselerasi hilirisasi produk ini dapat menjadi metode efektif dalam meningkatkan nilai tambah dalam ekspor. Meskipun demikian, saat ini sebagian besar ekspor rumput laut dari daerah ini masih dalam bentuk *raw materials* atau bahan mentah, dan bukan produk yang telah diolah lebih lanjut. Dalam konteks komoditas non-tambang, Rizki memberi penjelasan bahwa hilirisasi serta pengembangan ekspor memerlukan peningkatan kapabilitas produksi rumput laut sebagai bahan baku. Oleh karena itu, pemberian insentif kepada pelaku usaha, termasuk distribusi bibit rumput laut berkualitas serta pengelolaan manajemen inventaris, perlu dilakukan untuk meningkatkan produksi serta mengatur fluktuasi harga di pasar. ANTARA