BORNEONEWS, Sampit - Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Sampit akan terus memantau 2 perangkap yang dipasang untuk menangkap 5 ekor beruang meresahkan warga di Jalan Lingkar Utara, Gang Burnia Raya.
"Kami memasang sekaligus 2 buah perangkap karena dilaporkan ada beruang yang berukuran besar dan berukuran sedang," kata Komandan BKSDA Resort Sampit Muriansyah, Senin, 19 Agustus 2024.
Pemasangan perangkap beruang tersebut merupakan tindak lanjut dari laporan warga dan hasil observasi lokasi kemunculan dan gangguan satwa liar beruang madu.
Dirinya bersama personil BKSDA Resort Sampit Riska Chairani Yuka dibantu Komunitas Reptil Sampit dan warga melakukan pemasangan 2 unit perangkap beruang madu dengan umpan buah nanas dan gula merah. Setiap 5-6 hari umpan tersebut akan diganti karena busuk.
Muriansyah menjelaskan, lokasi pemasangan perangkap tersebut memperhatikan jalur atau jalan beruang masuk dan keluar kebun nanas. Setelah pemasangan perangkap tersebut pihaknya akan terus memantau.
--page
"Setiap pagi kami bisa menghubungi pelapor via telepon apakah beruang telah masuk perangkap. Kemudian saat beruang nantinya terperangkap, kami tidak ijinkan pelapor ataupun warga untuk mendekati perangkap," imbuhnya.
Sebelumnya, warga atas nama Burhan melaporkan kemunculan beruang diperkirakan berjumlah 5 ekor terdiri dari 1 ekor jantan besar, 1 ekor induk besar dan 3 ekor ana. Laporan tersebut diterima BKSDA Resort Sampit pada Jumat, 16 Agustus 2024. Kemudian Muriansyah langsung melakukan observasi sehari setelah laporan diterima.
BKSDA Sampit menemukan jejak kemunculan beruang melalui kerusakan tanaman. Beruang merusak dan memakan jenis nenas baik buah naupun umbutnya serta umbut kelapa dan sarang tawon. Selain itu juga menemukan 1 buah bekas sarang beruang di sebatang pohon dan menemukan cakaran di batang pohon.
Diduga sekelompok beruang tersebut muncil untuk mencari makan. Mengingat perilaku setiap tahun saat kemarau beruang mendekati kebun warga akibat kekurangan makan dan minum sekaligus menghindari api kebakaran di titik-titik hutan atau semak belukar yang tersisa. (DEWI PATMALASARI/Y)









