KENDARI –
**Borneonews - Kendari**, Balai Karantina Indonesia dan Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari, yang terletak di Sulawesi Tenggara, telah menjalin kerjasama yang produktif untuk meningkatkan kualitas ekspor komoditi dari wilayah tersebut. Dalam rangka memperkuat kolaborasi ini, kedua institusi melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) yang mencakup berbagai aspek pengawasan dan pengelolaan komoditi. Kepala Badan Karantina Indonesia, Sahat Manaor Panggabean, menyatakan bahwa perjanjian kerjasama ini bertujuan untuk melibatkan pihak universitas dalam mendukung kegiatan yang dilakukan oleh Balai Karantina di Sulawesi Tenggara. Dengan keterlibatan UHO, diharapkan pengawasan terhadap komoditi yang diekspor akan semakin baik, sehingga pada gilirannya dapat meningkatkan volume ekspor yang lebih signifikan di masa mendatang. Sahat menjelaskan pentingnya keterlibatan data ilmiah yang dihasilkan oleh universitas untuk memperkuat kegiatan Balai Karantina. Setiap negara yang menjadi tujuan ekspor memerlukan jaminan kualitas barang yang dikirimkan. Oleh karena itu, penting untuk memastikan bahwa komoditi yang diekspor memenuhi standar dan kebutuhan spesifik dari negara-negara tersebut. "Dukungan dari institusi riset, dalam hal ini universitas, sangat krusial untuk mewujudkan hal ini," tegasnya. Kerjasama ini juga mencerminkan keterbukaan Balai Karantina Indonesia dalam menerima mahasiswa dari berbagai universitas untuk belajar dan berlatih di seluruh unit mereka di Indonesia. Di sisi lain, Rektor Universitas Halu Oleo, Prof. Muhammad Zamrun Firihu, memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif yang diambil oleh Balai Karantina. Ia menekankan bahwa komitmen tersebut menunjukkan sinergi antara dunia pendidikan dan sektor pengawasan kualitas komoditi. "Kerja sama ini sangat positif dan penting untuk menjamin kualitas hasil pertanian, hewan ternak, serta produk perikanan kita melalui kolaborasi yang melibatkan berbagai pihak," ungkapnya. Melalui kerjasama ini, diharapkan akan tercipta sinergi yang erat antara institusi akademis dan lembaga pemerintah, guna mendukung peningkatan kualitas ekspor dari Sulawesi Tenggara secara berkelanjutan. ANTARA