JAKARTA –
**Borneonews - Canberra**, Menteri Pertahanan Indonesia Prabowo Subianto beserta Perdana Menteri Australia Anthony Albanese pada hari Selasa mengumumkan bahwa perundingan mengenai perjanjian kerja sama pertahanan yang baru, atau *Defense Cooperation Agreement (DCA)*, antara kedua negara telah berhasil diselesaikan. Pengumuman tersebut disampaikan di Canberra, di gedung Australian Parliament House, dan disiarkan secara resmi oleh Kantor Perdana Menteri Australia. Dalam konferensi pers tersebut, Menhan Prabowo mengungkapkan bahwa kedua negara telah mencapai kemajuan yang signifikan dalam negosiasi yang penuh tantangan ini. Ia menyatakan, "Kami telah merampungkan sejumlah aspek hukum yang perlu diselaraskan, dan hasil yang kami capai pun sangat memuaskan." Perdana Menteri Albanese menilai perjanjian yang baru saja dirampungkan itu sebagai tonggak penting dalam hubungan bilateral antara Indonesia dan Australia. "Perjanjian yang bersejarah ini akan memperkuat kerja sama pertahanan kami melalui dialog yang konstruktif, peningkatan *interoperability*, dan praktik-praktik militernya di lapangan. Hal ini akan menjadi acuan yang sangat penting bagi kedua negara serta stabilitas kawasan," ujar Albanese. PM Albanese juga menginformasikan bahwa Menteri Pertahanan Australia Richard Marles dijadwalkan melakukan kunjungan ke Jakarta dalam beberapa hari ke depan untuk menandatangani perjanjian tersebut secara resmi dengan Menhan Prabowo. Menurut Marles, rampungnya perundingan ini menciptakan lebih banyak kesempatan untuk pelaksanaan latihan militer gabungan antara kedua negara. "Perjanjian ini akan meningkatkan tingkat *interoperability* di antara angkatan bersenjata kami," kata Marles. Lebih lanjut, Richard Marles menekankan bahwa perjanjian ini akan menjadi dokumen penting dalam kerangka kerja sama Indonesia-Australia. "Secara geografis, kami memang bertetangga dekat. Namun, mulai sekarang, nasib kedua negara akan ditentukan oleh kepercayaan yang strategis dan kuat,” tuturnya. Ia menambahkan bahwa umumnya perundingan semacam ini memerlukan waktu yang cukup lama, namun Indonesia dan Australia berhasil menyelesaikannya dalam waktu kurang dari dua tahun. Dalam kesempatan tersebut, Menhan Prabowo juga menggarisbawahi perlunya memperluas kerjasama di bidang-bidang lain, termasuk di sektor ketahanan pangan, pertanian, dan pengentasan penyelundupan narkoba. "Kami membahas berbagai isu penting yang akan memberi manfaat bagi masa depan kedua negara," imbuhnya. ANTARA