JAKARTA –
**Borneonews - Jakarta**, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Emanuel Melkiades Laka Lena, mengungkapkan harapannya agar anggaran kesehatan dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun 2025 dapat lebih diprioritaskan untuk kegiatan pencegahan penyakit serta upaya promotif. Pernyataan tersebut disampaikan Melki dalam acara Diskusi Dialektika Demokrasi dengan tema "Membedah Pidato Presiden di Bidang Kesehatan yang Kian Membaik" yang berlangsung di Kompleks Parlemen, Jakarta, pada hari Selasa. Melki menekankan bahwa paradigma kesehatan di Indonesia telah bergeser menuju fokus yang lebih besar pada pendekatan promotif dan preventif. Ia menegaskan pentingnya dukungan anggaran yang memadai untuk mengimplementasikan cara-cara baru dalam mendorong kesehatan masyarakat. "Anggaran kesehatan yang cukup akan menjadi kunci dalam mendukung upaya-upaya ini," tambahnya. Dalam konteks ini, upaya promotif mengacu pada berbagai kegiatan pelayanan kesehatan yang berorientasi pada promosi kesehatan, termasuk kegiatan penyuluhan. Menurut Melki, langkah-langkah promosi dan pencegahan merupakan kebutuhan yang mendesak bagi masyarakat saat ini untuk mencapai derajat kesehatan yang lebih baik. Sebelumnya, anggaran kesehatan yang diusulkan telah disampaikan oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo, dalam pidato mengenai RUU APBN Tahun Anggaran 2025 dan Nota Keuangan pada Sidang Paripurna DPR RI untuk Tahun Sidang 2024-2025 yang berlangsung pada hari Jumat, 16 Agustus 2024. Dalam pidatonya, Presiden Jokowi menyampaikan bahwa anggaran kesehatan direncanakan mencapai Rp197,8 triliun, yang setara dengan 5,5 persen dari total belanja negara. Anggaran ini akan difokuskan pada peningkatan kualitas dan aksesibilitas layanan kesehatan serta program untuk menurunkan angka stunting dan mengatasi penyakit menular seperti tuberkulosis (TBC). Selain menyoroti pentingnya fokus pada upaya preventif, Melki juga membahas program transformasi kesehatan yang diluncurkan oleh Kementerian Kesehatan. Program ini berfokus pada penguatan pelayanan kesehatan di daerah-daerah terpencil, mulai dari posyandu hingga puskesmas. Menurut Melki, langkah ini menjadi sangat penting dalam meningkatkan akses serta kualitas layanan kesehatan di seluruh Indonesia. Ia juga mencatat tantangan yang masih dihadapi Indonesia dalam menangani penyakit menular, khususnya tuberkulosis (TBC). Melki memberikan apresiasi terhadap semua pihak yang terlibat dalam upaya meningkatkan kesadaran dan penanganan penyakit ini, berharap agar upaya tersebut dapat secara signifikan menurunkan angka kematian yang diakibatkan oleh TBC di Tanah Air. ANTARA